06 March 2020, 10:25 WIB

Pengamat: Jaga Keberagaman, Jangan Terjebak Konflik


Antara | Humaniora

KETUA Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia mengajak seluruh pihak untuk tidak terjebak provokasi dalam konflik sektarian.

Siti Musdah Mulia di Jakarta, Kamis (5/3), mengatakan bahwa India kini sedang diuji dengan tantangan keragaman. Konflik sektarian agama menjadi penyebab munculnya konflik horizontal yang meluas.

"Tidak seharusnya konflik sektarian di mana pun asalnya ini disikapi dengan dalih solidaritas komunal. Hendaknya kita tidak ikut terprovokasi dalam konflik sektarian dan tetap merawat persaudaraan berbangsa dan bernegara," kata Siti Musdah.

Menghadapi kondisi-kondisi seperti itu, Siti juga menyarankan agar pemerintah bisa selalu bersikap tegas dalam upaya pencegahan konflik di tengah masyarakat.

"Jadi, ketika ada masalah pemerintah itu harus cepat mengantisipasi. Misalnya, sekarang ada berita di India sedang bergolak. Akan tetapi, itu kan kejadiannya di sana. Artinya kita di sini harus tetap menjaga agar jangan sampai hal yang sama terjadi di sini," katanya.

Menurutnya, pemerintah bersama tokoh mayarakat dan tokoh agama harus sigap menanggapi setiap informasi yang beredar, sehingga informasi yang keliru atau dipelintir-pelintir itu tidak sampai terjadi.

 

Baca Juga:  ASN Kemenag Diminta Ikut Tenangkan Masyarakat Soal Korona

 

"Pemerintah bisa mengimbau masyarakat untuk tetap bersikap secara rasional dan tidak reaktif berlebihan. Tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama juga harus ikut serta untuk memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa kita tidak boleh ikut-ikutan seperti di India," ucapnya.

Indonesia, menurut dia, merupakan negara dengan ideologi Pancasila, kemudian ideologi ini menunjukkan sikap menghormati semua agama dan kepercayaan yang berkembang di Tanah Air.

"Tidak mayoritas maupun minoritas semua diperlakukan sama dan setara di sini,” katanya.

Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah itu berpendapat pendidikan agama di Indonesia ini juga belum mampu membuat masyarakat bisa beragama secara rasional sehingga sering kali muncul tindakan-tindakan irasional, tindakan-tindakan intoleran atas nama agama.

“Karena sekarang kita berada pada era post-truth, pada masa orang-orang tidak percaya pada data-data yang valid, tetapi terhadap yang ingin dia percayai meskipun itu tidak benar. Padahal seharusnya apa pun kamu harus tetap rasional, tidak ikut-ikutan rusuh, atau bahkan fanatik dan militan," ujarnya. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT