09 March 2020, 15:40 WIB

Hari Musik Nasional, Mari Kenang Diva-Diva Pertama Indonesia


Fathurrozak | Weekend

TEPAT hari ini Indonesia memperingati Hari Musik Nasional. Penetapan hari melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2013 itu merujuk pada hari lahir Wage Rudolf Supratman, komponis dan pencipta Indonesia Raya.

Tidak hanya W.R. Supratman, banyak sosok-sosok lain yang berjasa dalam perkembangan musik di Tanah Air. Pada era 20-30an, panggung hiburan kita pun telah mengenal diva-diva yang tidak hanya piawai bernyanyi melainkan juga berakting. Tidak heran, karena pada masa itu seni pertunjukan yang umum adalah opera sehingga pemainnya dituntut untuk setidaknya punya keahlian dalam dua bidang itu. Berikut adalah beberapa diva Tanah Air di era tersebut:

1. Miss Riboet

Miss Riboet ialah penyanyi yang tergabung dalam kelompok opera stamboel dengan nama sama seperti dirinya, Miss Riboet Orion. Meski sebagai kelompok opera, Miss Riboet Orion kemudian menggabungkan antara seni dan olahraga. Para anggotanya selain harus bisa bermain musik dan teater, juga harus bisa bermain bola.

Mengutip laman jakarta.go.id, perkawinan seni dan olahraga ini pula yang kemudian membuat corak toko-toko di Jakarta sampai saat ini banyak yang terlihat menjual alat musik sekaligus olahraga.

Dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2015) karya Denny Sakrie, menyebut Miss Riboet dianggap sebagai salah satu artis rekaman tersukses yang pernah ada di Indonesia. Namanya dikenal di Hindia dan Malaysia. Ia merilis 188 rekaman di bawah label asal Jerman, Beka Records. Miss Riboet berada di bawah Beka pada kurun 1926-1927.


2. Miss Alang
Hingga kini, anak-anak masih kerap diajarkan lagu Anak Kambing. Penyanyinya aslinya ialah Miss Alang. Ia merupakan penyanyi yang bernaung di bawah label Odeon, yang disebut menjadi penampung ‘second rank stars,’ termasuk Miss Alang.

Bila Miss Riboet tergabung bersama kelompok opera Miss Riboet Orion yang ia pimpin bersama suaminya Tio Tik Djien, maka Miss Alang tergabung dalam kelompok Dalia Opera. Lagunya kala itu diputar di radio-radio, dan tentunya direkam dalam piringan hitam. Bahkan, karyanya diedarkan hingga Singapura dan Malaysia.

Dalam laman roots.sg, terdapat potret piringan hitam keluaran Odeon dengan sampul didominasi warna cokelat krem, dengan lis merah di pinggir dan tertulis Odeon di bagian atas dan bawahnya, serta logo label di kanan dan kiri. Menjadi koleksi milik National Museum Of Singapore. Dalam keterangannya, tertulis, piringan hitam lagu Salah Nama, karya Miss Alang. Dengan tanggal edar pada medio 1950-an hingga 1970-an, dan diedarkan di wilayah Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

Mengutip cuitan twitter akun @potretlawas yang kerap mengulas sejarah, disebutkan pada pertengahan 1930, Miss Alang tur ke Singapura. Sekaligus menjadi penampilan perdananya di luar Jawa. Selang setahun, ia pun tur ke Sumatera Timur.

3. Annie Landouw

Nama Annie Landouw juga bisa disematkan sebagai ikon keroncong. Selain bernyanyi, ia juga membintangi beberapa film. Landouw, yang tunanetra merupakan penyanyi asal Surakarta.

Dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia, disebutkan pada 1927 ia menjuarai kontes menyanyi di kotanya. Kemudian dibawa Beka Records untuk rekaman dan menetap di Batavia. Ia pun tergabung dalam kelompok keroncong Lief Java sejak 1938. Landauw di antaranya terlibat dalam tiga film, Soerga Ka Toedjoe (1940), Rokiehati (1940), dan Siti Akbari (1939). Dalam Soerga Ka Toedjoe dan Rokiehati, Landauw juga bermain dengan sesama penyanyi keroncong satu kelompoknya di Lief Java, Roekiah.

Dalam buku Ekranisasi Awal: Bringing Novels to The Silver Screen in The Dutch East Indies (2017), karya Christopher A. Woodrich, film yang turut mempopulerkan keroncong ialah Terang Boelan (1937). Film itu dibintangi senior Landauw di Lief Java, Roekiah. Usai Terang Boelan, banyak film yang kemudian menampilkan tembang-tembang keroncong. para diva keroncong pun kemudian banyak yang mengalami transisi dari dunia panggung opera ke layar perak. Seperti Roekiah, juga Annie Landouw. (M-1)

BERITA TERKAIT