09 March 2020, 15:22 WIB

Sejumlah Kedutaan di Korea Utara Tutup Akibat Korona


Nur Aivanni | Internasional

SEJUMLAH kantor kedutaan negara sahabat di Korea Utara terpaksa ditutup, menyusul kebijakan karantina ketat yang diberlakukan Pyongyang untuk membatasi wabah virus korona (COVID-19).

Sejauh ini, pemerintah Korea Utara belum mengonfirmasi kasus positif virus yang berasal dari Tiongkok. Namun, otoritas setempat bergerak cepat untuk menutup pintu perbatasan dan mengisolasi ribuan penduduk lokal.

Kebijakan itu juga menyebabkan ratusan warga negara asing, termasuk diplomat, ikut diisolasi. Duta Besar Rusia untuk Korea Utara, Alexander Matsegora, menggambarkan situasi tersebut sebagai "penghancuran moral".

Baca juga: Korsel Siaga Satu Virus Korona

Aturan pembatasan akhirnya mulai diperlonggar pekan lalu. Tecermin dari izin yang diberikan terhadap 200 orang warga negara asing untuk meninggalkan Korea Utara.

Di lain sisi, Duta Besar Swedia untuk Korea Utara, Joachim Bergstrom, mengunggah swafoto dari pusat kota melalui akun Twitter yang berbunyi "Saya tidak pernah lebih bahagia berdiri di Lapangan Kim Il Sung."

Langkah evakuasi diambil, setelah muncul laporan penerbangan khusus tengah diatur untuk mengevakuasi diplomat dan warga negara asing dari Pyongyang, menuju Kota Vladivostok, Rusia.

Baca juga: Jumlah Tewas Akibat Covid-19 di Italia Terus Melonjak

"Sedih mengucapkan perpisahan kepada rekan-rekan dari Kedutaan Besar Jerman dan Kantor Prancis #NorthKorea yang ditutup sementara," bunyi cuitan Colin Crooks, Duta Besar Inggris untuk Pyongyang, sekaligus menambahkan bahwa kantor kedutaan tetap buka.

Situs Bandara Vladivostok melaporkan penerbangan Air Koryo JS 271 dari Pyongyang, sudah tiba pukul 10.49 pagi waktu setempat. Tidak jelas berapa banyak diplomat yang berada dalam penerbangan, namun laporan terakhir menyebut sekitar 60 orang dievakuasi.

Bulan lalu, Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, memperingatkan "konsekuensi serius" jika wabah virus korona mencapai negaranya. Pihaknya telah melarang masuknya turis, serta menangguhkan jadwal kereta api dan penerbangan internasional. Pyongyang memiliki infrastruktur medis yang lemah, sehingga upaya pencegahan menjadi pilihan tunggal.(AFP/OL-11)

BERITA TERKAIT