09 March 2020, 14:56 WIB

DBD Merebak karena Pengelolaan Sampah tidak Optimal


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

DIREKTUR Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, tingginya angka Deman Berdarah Dengue (DBD) pada sejumlah wilayah di Tanah Air akibat kurang optimalnya pengelolaan sampah dalam lingkungan masyarakat.

"Pengelolaan sampah di masyarakat belum benar, sampah berserakan ya," kata Siti kepada Media Indonesia, Senin (9/3).

Baca juga: Menkes RI Tiba di Maumere untuk Bahas DBD

Kebiasaan itu memberikan ruang bagi nyamuk untuk berkembang biak. Seperti tempat penampungan air dibiarkan terbuka tidak ditutup kassa atau jaring.

Oleh karena itu, Kemenkes melakukan serangkaian evaluasi untuk penanganan DBD di daerah, di antaranya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilaksanakan sepanjang waktu, bukan hanya ketika ada penularan DBD.

"Utamanya PSN harusnya dilaksanakan sebelum masa penularan. Kalau bisa sepanjang tahun, apalagi seperti Kabupaten Sikka daerah yang risiko tinggi karena setiap tahun selama 5 tahun angkanya naik terus," sebutnya.

Baca juga: Alat Pelindung Diri Habis, Tenaga Medis Gunakan Jas Hujan

Menurutnya, dalam mengantisipasi perluasan DBD, pihaknya telah mendirikan posko KLB DBD di Sikka bersama Dinkes dan staf Kemenkes terpadu dari pusat krisis sejak beberapa waktu lalu.

"Untuk evaluasi dan rencana intervensi harian, kita juga melakukan penguatan diagnosis dan tata laksana di RS dan petugas medis untuk penanganan DBD komplikasi," paparnya. (Fer/A-3)

Berdasarkan data Kemenkes, berikut beberapa daerah yang jumlah penderita DBD tertinggi, masing-masing kabupaten/kota;

1. Sikka, Nusa Tenggara Timur 1.074

2. Pringsewu, Lampung 299

3. Lampung Selatan, Lampung 290

4. Lampung Tengah, Lampung 265

5. Belitung, Bangka Belitung 256

6. Kota Bandung, Jawa Barat 218

7. Malang, Jawa Timur 218

8. Pacitan, Jawa Timur 208

9. Kota Depok, Jawa Barat 172

10. Jakarta Timur, DKI Jakarta 161

BERITA TERKAIT