09 March 2020, 13:06 WIB

Sultan Yogyakarta: Keraton Yogyakarta Membuka Diri untuk Publik


Ardi Teristi Hardi | Nusantara

RAJA Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB mengungkapkan, Keraton Yogyakarta membuka diri untuk publik. Sultan pun mempersilahkan siapa pun untuk belajar dan memahami budaya yang ada di Keraton Yogyakarta.

"Dengan digitalisasi, tidak ada yang bisa ditutup-tutupi. Bagi saya, (budaya) keraton juga terbuka, bukan hanya untuk akademisi, tetapi juga untuk publik," kata Sultan saat membuka Simposium Internasional Busana dan Peradaban Keraton Yogyakarta, di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, Senin (9/3).

Sultan yakin, kebudayaan Keraton Yogyakarta akan tetap ada ke depan. Pasalnya, banyak anak muda yang mau mengenal dan belajar budaya Keraton Yogyakarta.

"Kalau ada yang bilang, generasi milenial tidak pernah mau mengenal budaya lokal lagi, saya rasa tidak," kata Sultan.

Sultan mengaku tidak terlalu takut dengan anak muda yang akan meninggalkan budayanya setelah mengenal teknologi baru. Sultan yakin, budaya lokal akan tetap ada dengan penafsiran baru oleh generasi selanjurnya.

"Budaya itu dinamis, bukan stagnan. Budaya dapat berubah menurut penafsiran genarasinya," kata dia.

Sultan mengungkapkam, dengan membuka diri dan mendekatkan diri lewat dialog, budaya Keraton Yogyakarta akan tetap ada dan sesuai tantangan zaman. Di saat bersamaan, Keraton Yogyakarta juga tetap berusaha menjelaskan budaya Keraton Yogyakarta kepada generasi muda agar bisa diikuti anak-anak muda sekarang.

baca juga: Semua Kepala Desa dan Camat di Sikka Diminta Siaga DBD

"Ruang itu (dialog budaya) kita buka. Bukan mengubah tradisi, tetapi tantangan zamannya memang seperti itu," terang Sultan.

Penafsiran baru atas budaya yang ada sebelumnya, misalnya, lewat flashmob beksan wanara. Flashmob beksan wanara kini telah banyak diduplikasi dan ditarikan di banyak daerah hingga di luar negeri. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT