09 March 2020, 11:22 WIB

Kisah Sukses Aktivis Lingkungan dalam Pengendalian Pencemaran


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

TIGA aktivis lingkungan menceritakan kisah sukses kemitraan masyarakat dalam Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), pada rangkaian acara Rapat Kerja Tekhnis pemulihan lingkungan serta pengendalian pencemaran, yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di Lombok, NTB, Minggu (8/3) malam.

Kolaborasi antara kelompok masyarakat, non gorvenmental organization (NGO), pemda, swasta, dan pemerintah, dikatakan oleh para penggiat aktif di tingkat tapak ini telah terbukti membawa perubahan yang ditandai dengan pulihnya kualitas lingkungan hidup.

''Kami mulai berkecimpung di Ciliwung tahun 2000 dengan konsep konservasi alam dan petualangan untuk anak. Tahun 2010, kondisi Ciliwung semakin parah akibat sampah dan limbah. Akhirnya saya memilih pensiun dini dan bangun komunitas sahabat Ciliwung,'' kisah Hidayat, Pendiri Yayasan Sahabat Ciliwung.

Mantan karyawan swasta ini mendapat dukungan dari pemda dan KLHK. Hingga saat ini sudah terbentuk sembilan komunitas di masing-masing wilayah per kelurahan di Depok.

Kegiatan yang mereka lakukan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tapi juga bisa memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar, karena menggabungkan konsep konservasi, edukasi, dan wisata alam sungai.

''Kami dapat dukungan KLHK sampai terbentuk namanya patroli sungai. Sekarang semakin banyak yang terlibat membersihkan Ciliwung, sehingga mulai dapat dinikmati lagi ikan-ikan endemik Ciliwung. Harapan kami kondisi ini terus membaik dengan dukungan semua pihak,'' kata Hidayat.

Kisah sukses lainnya datang dari Sadikin, Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) berulang dan puncaknya tahun 2015, meninggalkan duka yang dalam. Tidak hanya rugi karena tanaman pertanian yang akan dipanen hangus terbakar, Sadikin juga harus kehilangan anaknya yang meninggal karena ISPA.

Dia bangkit bersama warga sekitar untuk mengatasi Karhutla. Melalui binaan PT Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) II Sei Pakning, warga menanam nanas di atas lahan gambut. Alasannya sekat tanaman nanas dapat menghalangi gambut terbakar. Dari hasil panen kebun nanas, warga kemudian berkumpul dalam wadah Koperasi Tunas Makmur.

''Kami juga membuat Arboretum gambut pertama di Sumatera yang juga bisa menjadi sarana edukasi warga. Alhamdulillah, setelah kebakaran 2015 sampai sekarang, di tempat kami zero karhutla alias tidak ada lagi titik api. Ini berkat kerjasama dan dukungan semua pihak,'' sebut Sadikin.

Kisah sukses terakhir datang dari Ketua BUMDes Njulung Agro Edu Tourism Malang, Dian. Komunitas masyarakat ini berhasil mengubah kawasan hutan yang tadinya rusak menjadi lokasi ekowisata yang mendatangkan pemasukan dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengatakan, tiga kisah sukses itu mewakili banyak keberhasilan kolaborasi semua pihak dalam menyelesaikan persoalan lingkungan yang begitu kompleks.

''Ini merupakan contoh keberhasilan di tingkat tapak. Aksi koreksi ini terbangun dari kesadaran kolektif, dimana semua pihak ikut turun bersama-sama pemerintah menyelesaikan masalah lingkungan, ini kekuatan besar kita,'' kata Menteri Siti.

Selain tiga kisah itu, juga ada Wilda Yanti dari Waste Management Sosial Enterprise berbasis Bank Sampah yang saat ini menjabat Sekretaris Jendral Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) dan Ananto Isworo, Founder Gerakan Shadaqoh Sampah.

Menurut Menteri Siti, keduanya hadir pada Global Forum on Environment-Mainstreaming Gender and Empowering Women For Environmental Sustainability. Forum ini diselenggarakan OECD (Organisation For Economic Cooperation and Development) di Paris, Prancis, pada 5-6 Maret 2020.

Wilda menyampaikan tentang Bank Sampah dan Peran Bank Sampah membangun Sistem Pengelolaan Sampah di Indonesia. Saat ini telah berkembang lebih 8.036 Bank Sampah di Seluruh Indonesia yang 80 persen diantaranya digerakkan oleh perempuan. (Fer/OL-09)

 

BERITA TERKAIT