09 March 2020, 10:42 WIB

ARV Langka, Nyawa ODHA Terancam


Atalya Puspa atalya@mediaindonesia.com | Humaniora

Kelangkaan stok obat antiretroviral (ARV) bagi pengidap HIV dan orang dengan HIV-AIDS (ODHA) terulang kembali. Akibat kelangkaan stok ARV, sejumlah ODHA meminta kepastian pemerintah mengenai keseriusan menangani mereka.

Wahyu Khresna dari Jaringan Indonesia Positif yang mewa-dahi ODHA di seluruh Indonesia sangat mengecam situasi ini. "Situasi ini membahayakan kesehatan orang yang hidup dengan HIV, merusak upaya untuk menghentikan epidemi dan mendiskreditkan upaya mengoptimalkan proses pengadaan obat-obatan esensial khususnya ARV," tandas Wahyu.

Sumber dari Koalisi AIDS mengatakan, terjadi krisis stok obat ARV di seluruh Indonesia, khususnya untuk ARV jenis Tenofovir dan Efavirenz. Adapun stok ARV jenis FDC Tenofovir/Lamivudin/Efavirenz hanya akan bertahan sampai Mei.

Direktur dari LSM Rumah Cemara Bandung Aditia Taslim menegaskan, pemerintah harus fokus memenuhi kebutuhan kesehatan bagi masyarakatnya. Apalagi kelangkaan obat bagi ODHA merupakan masalah hidup dan mati.

"ODHA juga merupakan warga negara yang haknya wajib dipenuhi dan dilindungi negara. Ketika isu kesehatan serta obat dijadikan komoditas, hak dan kebutuhan ODHA akan menjadi terancam. Kejadian stock-out ini bukan yang pertama kali terjadi. Ini bukti ketidakseriusan pemerintah dalam melindungi warganya," kata Aditia dalam keterangan resmi, Sabtu (7/3).

Hal senada dikeluhkan Koordinator Nasional Ikatan Perempuan Positif Indonesia Baby Rivona. Dirinya menyatakan, kelangkaan ARV menimbulkan ketakutan yang besar. Pasalnya, sebagai ODHA, keberlangsungan hidupnya sangat bergantung dari obat tersebut.

"ARV adalah nyawa bagi saya. Dengan krisis stok saat ini, nyawa saya terancam. Jujur situasi ini membuat saya takut! Sebab, siapa yang akan menjamin kehidupan anak saya jika saya mati. ARV buat saya ialah harga mati," kata Baby.

Terkait kelangkaan ARV, JIP mendesak semua pemangku kepentingan, terutama Kemenkes, perusahaan farmasi, dan organisasi masyarakat untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini. Jika diperlukan, mengupayakan opsi pasokan mendesak obat-obatan sebagai bantuan kemanusiaan.

 

Aman

Secara terpisah, Kementerian Kesehatan memastikan stok obat ARV bagi ODHA dalam kondisi aman sepanjang 2020. Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Engko Sosialine Magdalene menyatakan, di awal 2020 ini sendiri, sudah dilaksanakan satu tahap distribusi ARV ke seluruh Indonesia.

"E-purchasing sudah dilaksanakan, distribusi tahap pertama sudah dilakukan pada Februari. Distribusi tahap kedua Senin atau Selasa besok akan dilakukan," terang Engko ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Engko tidak dapat memastikan berapa banyak proses distribusi ARV dan berapa banyak stok yang dikerahkan dalam setiap distribusi. Namun, dirinya memastikan distribusi dilakukan sesuai dengan kebutuhan daerah.

"Prinsipnya penahapan mempertimbangkan masa berlaku e-katalog, kesiapan produk yang diproduksi penyedia di e-katalog, dan kapasitas penyimpanan di Dinas Kesehatan," tuturnya. (H-3)

BERITA TERKAIT