09 March 2020, 09:37 WIB

Dua Orang Mengklaim Presiden Afghanistan Dilantik Bersama


Nur Aivanni | Internasional

RAKYAT Afghanistan pada Senin (9/3) ini akan menyaksikan pertunjukkan yang ganjil. Yakni dua upacara pelantikan secara bersamaan, antara Presiden Ashraf Ghani dan saingannya Abdullah Abdullah. Keduanya mengklaim sebagai kepala negara di tengah kekhawatiran pertengkaran mereka dapat menggagalkan pembahasan Taliban mendatang.

Pada September tahun lalu, negara tersebut menggelar pemungutan suara untuk pemilihan presiden. Namun, hasilnya mengalami penundaan karena adanya tuduhan kecurangan. Kemudian, pada Februari 2020, Presiden petahana Ashraf Ghani telah dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden Afghanistan. Ghani terpilih kembali dengan mengumpulkan 50,64% suara.

Sementara saingannya Abdulah Abdullah hanya memperoleh 39,52% suara. Abdullah pun menentang hasil pemilihan tersebut. Ia justru menyatakan kemenangannya.

"Tidak mungkin memiliki dua presiden di satu negara," kata Ahmad Jawed, 22, yang mendesak kedua lelaki itu untuk mengesampingkan kepentingan pribadi mereka, seperti dikutip dari AFP, Minggu (8/3).

Daripada mengadakan upacara pengambilan sumpah, lanjutnya, keduanya seharusnya berbicara satu sama lain untuk menemukan solusi. Upacara pelantikan akan berlangsung di bawah penjagaan ketat, dengan beberapa pos pemeriksaan disiapkan di Kabul beberapa jam sebelum keduanya dilantik.

Analis politik Atta Noori mengatakan pertengkaran akan sangat memengaruhi posisi pemerintah dalam pembicaraan intra-Afghanistan yang akan datang.

"Persatuan adalah satu-satunya jalan (maju) jika mereka ingin menang di meja perundingan," katanya.

baca juga: Raja Belanda Tetap Berkunjung ke Indonesia

Dengan pembicaraan pada menit-menit terakhir yang dilaporkan sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan guna menghindari krisis politik berkepanjangan, rakyat Afghanistan tampak benar-benar tidak terkesan.

"Mereka membuat janji selama kampanye tetapi tidak pernah menepati janji mereka," kata warga Kabul, Noman Formuli.

"Mereka berjanji untuk membawa keamanan, mereka gagal. Mereka menjanjikan pekerjaan untuk negara itu, mereka gagal. Kami lelah melihat mereka," kata pria 24 tahun itu. (OL-3)

BERITA TERKAIT