09 March 2020, 08:00 WIB

Raja Belanda Tetap Berkunjung ke Indonesia


Andhika Prasetyo | Internasional

KENDATI dunia, termasuk Indonesia, tengah mendapat serangan virus korona jenis baru atau covid-19, Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima tetap akan melakukan kunjungan ke Tanah Air, 9 hingga 13 Maret 2020.

Kepastian itu dikatakan juru bicara pemerintah terkait dengan penanganan virus korona Achmad Yurianto. Menurutnya, virus korona tidak akan mengganggu jadwal kunjungan kenegaraan Raja dan Ratu Belanda ke Indonesia.

Yurianto menjelaskan otoritas kesehatan kedua negara sudah berkomunikasi untuk memastikan bahwa tidak ada risiko besar dari kunjungan tersebut. "Kalau sudah dipastikan aman, ya, pasti tidak ada masalah," ujarnya di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Indonesia juga membenarkan agenda kedatangan Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima tetap sesuai dengan jadwal.

Dalam kunjungan ke Indonesia, Raja dan Ratu Belanda akan membawa serta menteri luar negeri, menteri perdagangan, menteri infrastruktur, menteri kesehatan, dan 180 pelaku usaha. Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima diagendakan berkunjung ke Jakarta, Yogyakarta, dan Kalimantan.

Dok. Kemendag/BKPM/NRC

 

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran Bandung, Teuku Rezasyah, mengatakan Indonesia hendaknya menggunakan momentum kunjungan kenegaraan Raja Belanda itu untuk mengoptimalkan kerja sama jangka pendek atau lima tahun ke depan.

"Karena Belanda merupakan negara terunggul di dunia dalam penanganan banjir di perkotaan, reklamasi, dan pembangunan infrastruktur pelabuhan laut," tuturnya.

Untuk jangka menengah 10-15 tahun, Rezasyah berharap pemerintah berhasil melibatkan Belanda guna mendukung rencana maritime fulcrum yang sudah lama dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Dia menekankan arti penting kunjungan kenegaraan Raja WIllem dan Ratu Maxima sebagai tradisi 25 tahunan. Sebelumnya, Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard berkunjung ke Indonesia pada 1970, kemudian diikuti Ratu Beatrix dan Pangeran Claus pada 1995.

"Kerja sama masa depan ini harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh Indonesia karena Belanda dapat dimintakan jasa baiknya untuk membuka arsip-arsip sejarah Indonesia di masa lalu dalam berbagai bidang, sebagai referensi bagi kearifan masa depan kedua negara," tutur Rezasyah. (Pra/Hym/X-8)

BERITA TERKAIT