09 March 2020, 08:40 WIB

Tenang, Dampak Korona ke Perbankan Masih Managable


M Ilham Ramadhan | Ekonomi


Ekonom dari Permata Bank Josua Pardede menilai dampak virus korona  masih belum terlalu signifikan pada sektor perbankan. Menurut dia, rasio kredit macet (Non Perfroming Loan/NPL) akan tetap terjaga dan terkendali.

 

Hal itu dikarenakan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membuat pelbagai kebijakan yang mampu mendorong sektor perbankan tetap memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian dari virus korona.

 

Untuk diketahui, BI telah mengeluarkan kebijakan untuk menopang sektor riil melalui penurunan giro wajib minimum 50 bps, kebijakan triple intervension di pasar spot, DNDF, dan SBN untuk meyakinkan pasar termasuk penurunan GWM perbankan menjadi 4% demi meningkatkan likuiditas.

 

Kebijakan BI menurunkan GWM valas bagi bank umum konvensional, kata Josua, akan menambah likuiditas valas dikisaran US$3,2 miliar. Dengan begitu likuiditas dolar AS akan tetap terjaga demi menjaga nilai tukar rupiah di pasar uang.

 

"Sementara itu, demi menjaga pertumbuhan ekspor Indonesia tetap stabil, BI juga akan menurunkan GWM bagi perbankan yang melakukan pembiayan terhadap kegiatan ekspor-impor. Kebijakan ini diperkirakan akan memberikan insentif bagi perbankan untuk menyalurkan dananya kepada eksportir sehingga eksportir akan semakin leluasa dalam berproduksi sehingga dapat mempertahankan kinerja ekspor Indonesia," jelas Josua saat dihubungi, Minggu (8/3).

 

 Adapun OJK berperan dengan melakukan relaksasi kebijakan penghitungan kolektibilitas debitur yang semula tiga pilar menjadi satu pilar. Otoritas juga mempersiapkan pengaturan restrukturisasi kredit yang disalurkan kepada debitur di sektor yang terdampak virus korona.

Stok Daging Masih Aman Hingga 6 Bulan ke Depan

Josua mengatakan, dari kebijakan yang dibuat oleh OJK, terlihat semangat otoritas untuk menjaga pertumbuhan kredit maupun tingkat NPL. Hal itu dinilai tepat meski belum ada data yang menunjukkan dampak signifikan dari virus korona pada sektor perbankan.

 

"Pada umumnya kondisi pemodalan perbankan kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) tercatat 23,31% dan rasio kredit macet juga masih rendah dan manageable 2,53% menunjukkan ketahanan sektor perbankan masih baik," ujar Josua.

 

Menurutnya, sektor yang terdampak signifikan dari mewabahnya virus korona ialah transportasi dan komunikasi. Sedangkan sektor yang terdampak dalam skala sedang yakni perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, pertanian serta pertambangan.

 

Oleh karenanya langkah mitigasi di sektor perbankan perlu diupayakan guna meminimalkan risiko kredit yang berpotensi meningkat sejalan dengan dampak pelambatan ekonomi Tiongkok dan berujung pada perekonomian nasional.

 

"Kebijakan OJK tersebut diperkirakan dapat memitigasi dampak pelemahan ekonomi global terhadap pertumbuhan dan stabilitas ekonomi nasional sehingga dampak NPL dapat dikendalikan rendah kurang dari 3%," pungkas Josua. (E-1)

BERITA TERKAIT