09 March 2020, 07:15 WIB

Digitalisasi Mudahkan Milenial Berinvestasi


Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi

PERKEMBANGAN digitalisasi yang pesat belakangan ini memberikan kemudahan bagi milenial dalam berinvestasi. Hal itu, misalnya, terlihat dari komposisi pembeli surat berharga negara (SBN) selama 2 tahun terakhir.

"Setelah menggunakan platform online, ada kenaikan siginifikan. Ketika offline, usia milenial yang berinvestasi SBN hanya 13%. Sejak November 2018 atau mulai menggunakan digital, partisipasi milenial meningkat. Kini, dengan online setiap kali penerbitan lebih dari 50% ialah milenial," ujar Direktur Pembiayaan Syariah Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Dwi Irianti Hadiningdyah dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (7/3).

Dwi menyampaikan, saat ini dengan penawaran secara online, setiap orang dapat membeli selama 24 jam per hari selama masa penawaran. Dia bahkan selalu mengecek jumlah pembelian SBN sebelum tidur atau terbangun di tengah malam. Menurut dia, hingga pukul 03.00 pagi masih saja ada yang membeli SBN.

"Tercatat, saat ini sudah lebih dari 200 ribu investor dan sekitar 50% lebih investornya ialah milenial," ucap Dwi.

Dari sisi keritelan setiap individu juga berubah. Dulu rata-rata hingga Rp860 juta tapi sekarang rata-rata per individu sudah di bawah Rp200 juta. Itu menunjukkan adanya pertambahan individu, dalam hal ini milenial, karena pendapatan yang belum besar.

"Jadi dari sisi jumlah individunya makin besar, tapi dari sisi volume pembelian memang masih kecil. Jadi, volume Rp1 juta-Rp100 juta sudah jauh lebih besar jika dibandingkan dengan di atas Rp1 miliar," terang Dwi.

Maka itu, ke depannya pemerintah terus mendorong pemasaran secara digital. Apalagi dari hasil penjualan 2019 atau termasuk generasi baby boomers yang umumnya menggunakan offline, kini pembayarannya mulai bergeser ke arah digital banking.

Sejumlah kemudahan juga akan diberikan pemerintah dalam mendorong investasi digital, di antaranya single investor identification (SID) yang tak hanya untuk produk obligasi ritel Indonesia (ORI), tetapi juga untuk sukuk. Bahkan, kini sejumlah pihak seperti financial technology (fintech) ikut menawarkan SBN untuk milenial, yakni Modalku dan Investree.

Jadi kebiasaan

Pada kesempatan sama, Managing Director/Head of Digital Banking PT Bank DBS Indonesia Leonardo Koesmanto membenarkan semakin tumbuhnya segmentasi milenial dalam pembelian instrumen investasi akibat perkembangan digitalisasi.

Berdasarkan data DBS Digital misalnya, ketika DBS merilis DBS Digital, investasi ritel masih sedikit. Namun, setahun berjalan, investasi dari ukuran Rp1 juta ke atas jumlahnya semakin besar.

"Saat ini jumlahnya sudah makin besar dan ada pergerakan pasti. Bahkan, investor milenial setiap kali ada penawaran baru, dia menjadi berulang. Dari awalnya coba-coba, lantas jadi kebiasaan. Saat ini transaksinya sudah mencapai 60%," tutupnya.

Sementara itu, CEO and Founder of Jouska.id Aakar Abyasa Fidzuno mengingatkan milenial yang ingin berinvestasi untuk dapat mengendalikan hasrat dalam mencari surat utang dengan yield tinggi sebab musuh terbesar investasi ialah rasa serakah lantaran akan membuat buta terhadap faktor risiko investasi tersebut. (S-3)

BERITA TERKAIT