09 March 2020, 05:30 WIB

Pemanasan di Tanah Air


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Olahraga

SPRINTER putra Indonesia Lalu Muhammad Zohri harus gigit jari karena gagal mengaspal di Brisbane Oceania Area Permit 2020 di Australia, 20 Maret, akibat merebaknya virus korona.

Padahal, kejuaraan itu akan jadi ajang uji coba untuk Zohri sebagai persiapan menghadapi Olimpiade 2020 yang akan digelar di Jepang. Itu juga jadi ketiga kalinya Zohri tidak bisa pemanasan sebelum ke Olimpiade karena korona. Sebelumnya dia gagal tampil di Kejuaraan Atletik Asia Indoor 2020 di Hangzhou, Tiongkok, yang dijadwalkan berlangsung pada 12-13 Februari. Kemudian rencana terjun ke Kejuaraan Atletik Dunia Indoor di Nanjing, Tiongkok, 13-15 Maret juga bernasib sama.

Dengan kondisi tersebut, pelatih Zohri, Eni Nuraini, akan memfokuskan atlet berjuluk 'Bocah Ajaib dari Lombok, Nusa Tenggara Barat' itu untuk mengikuti kejuaraan lokal. Hingga kini yang pasti akan diikuti Zohri ialah Jawa Timur Terbuka pada 17 April.

"Sebetulnya sangat disayangkan. Soalnya sudah persiapan juga untuk ke Australia. Kami ingin tahu hasil latihan selama ini seperti apa," ujar Eni kepada Media Indonesia, kemarin.

Eni mengaku bahwa tidak adanya latih tanding skala internasional turut memengaruhi performa Zohri. Apalagi, Zohri kini masih berstatus pelari tercepat di Indonesia. Jadi, terbilang belum ada lawan yang seimbang saat mentas di Jatim Terbuka.

Namun, Eni telah membuat kesepakatan dengan Zohri untuk tampil maksimal dan mengejar limit yang diberikan di Jatim Terbuka, bukan kemenangan semata. Hal itu dilakukan supaya kedua pihak mengetahui hasil latihan.

Selama latihan di Stadion Madya, Jakarta, Zohri telah melakukan uji coba bersama sprinter lainnya dan mencatat waktu 10.50 detik. Eni juga telah menyiapkan pelari asal DKI Jakarta, Wahyu Setiawan untuk jadi partner latihan Zohri.

Nasib atlet Korsel

Persiapan atlet-atlet Korea Selatan (Korsel) yang akan diterjunkan ke Olimpiade juga ikut tersendat karena adanya korona. Korsel seperti diketahui jadi salah satu negara yang paling terdampak oleh adanya virus tersebut. Setidaknya dari 'Negeri Ginseng' dilaporkan telah ada 5.000 kasus dan 30 nyawa melayang karena korona.

Beberapa negara pun telah menyatakan harus mengarantina jika ada yang datang dari Korsel. Padahal, ada banyak atlet Korsel yang akan mengikuti sejumlah kompetisi di negara lain. Turnamen-turnamen itu, selain menjadi ajang persiapan, menyediakan poin masuk Olimpiade.

Panahan dan taekwondo merupakan cabang olahraga andalan Korsel di Olimpiade. Timnas panahan Korsel berencana bertolak ke Turki untuk ikut Piala Dunia, tapi mereka dilarang masuk oleh otoritas setempat. Nasib sama juga dialami timnas taekwondo Korsel yang harus ikut Kejuaraan Asia di Beirut, Libanon.

Korsel sendiri merupakan satu dari sekian banyak negara di Asia yang cukup kuat bersaing di Olimpiade. Mereka sukses menempati rangking kedelapan dengan sembilan medali emas di klasemen Olimpiade 2016 di Brasil dan kelima di edisi 2012 yang diselenggarakan di Inggris dengan 13 medali emas. (Japantoday/R-3)

BERITA TERKAIT