08 March 2020, 16:23 WIB

Jurang Kesetaraan Gender Masih Lebar


mediaindonesia.com | Humaniora

Indonesia masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai kesetaraan gender dalam segala bidang. Kampanye kesetaraan gender masih jauh dari selesai.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengungkapkan itu dalam rangka Hari Perempuan Internasional, Minggu (8/3) bertema EachForEqual.
“Butuh kerja sama dan kontribusi dari semua pihak untuk mencapai ekualitas. Gap atau jurang kesetaraan gender masih lebar. Kampanye kesetaraan gender masih jauh dari selesai,” ujar Lestari.

Rerie lalu merujuk data Pemilu 2019. Pemilu 2019 menghasilkan keterwakilan perempuan tertinggi di DPR-RI sepanjang Pemilu pascareformasi berkisar di angka 21% dari total kursi 575.

“Banyak faktor yang menyebabkan pencapaiannya belum sampai 30%. Pertama, kendala mengajak perempuan menjadi pemimpin yang masih besar. Masih kuat cara pandang bias gender bahwa perempuan tidak layak memiliki peran di area publik, sehingga kita belum dapat bicara dengan solid mengenai perspektif perempuan atau pengarusutamaan gender di berbagai tingkatan,” ungkap Legislator Partai NasDem itu.

Kuota 30% bagi perempuan menduduki kursi di parlemen yang masih sebatas retorika. Perludem memperlihatkan bahwa dalam Pemilu Legislatif lalu ada 80 Dapil dan 16 Partai Politik peserta Pemilu. Dari 1.280 calon legislatif dan 80 daerah pemilihan, caleg perempuan yang ditempatkan dalam nomor urut satu (1) ada 235 orang (18,36%).

“Jadi niat baik (good will) untuk mematuhi kuota 30% bagi perempuan menduduki kursi di parlemen, masih sebatas retorika,” tukas Rerie.

Partai NasDem tercatat sebagai partai politik yang memenuhi kuota 30% perempuan. Sebanyak 20 perempuan duduk sebagai anggota DPR dari total 59 anggota (33,8%).

Pada sisi lain, persaudarian atau sisterhood,  perempuan pilih perempuan dalam pengalaman Rerie tidak terjadi. “Walaupun mereka hadir dalam acara kampanye dan merasakan manfaat atas aktivitas yang  dilakukan, belum tentu mereka memilih. Keputusan perempuan untuk memilih sangat tergantung patron-nya,” ujar Rerie.
 
Fakta itu juga pernah diungkap data Surnas LSI – IFES Juni 2014 yang menunjukkan hanya 15,7% pemilih perempuan yang akan memilih kandidat perempuan, meskipun jika kualitasnya sama dengan kandidat laki-laki. Mayoritas (46,8%) tetap akan memilih kandidat laki-laki.

Rerie menambahkan fakta-fakta tersebut masih diperburuk adanya pandangan yang memarginalkan dan mendiskriminasi perempuan yang
masih kuat di masyarakat.

“Serangan yang digaungkan oleh para pemimpin informal agar saya tidak terpilih bukan soal kapasitas saya, tapi karena saya perempuan. Kampanye perempuan itu tempatnya di belakang, cukup manjur,” tutur Rerie.

baca juga: Kesetaraan Gender Bisa Optimalkan Potensi dan Produktivitas

Rerie juga membandingkan kesetaraan gender dalam konteks global. Menurut Global Gender Gap Report 2020 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum, Indonesia berada pada peringkat 85 dari 153 negara. Peringkat Indonesia itu lebih baik daripada Malaysia (104) dan Tiongkok (106), tapi di bawah Filipina (16) dan Singapura (54).
Sementara peringkat teratas adalah Islandia (1), disusul Norwegia (2), Finlandia (3), dan Swedia (4).

Gender Gap Performance merupakan sintesa dari partisipasi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan keterlibatan politik. Secara keseluruhan, keterlibatan perempuan dalam politik paling tidak terwakili atau hanya terpenuhi 25%. Belum ada satu pun negara yang sudah menutup gap tersebut.

Islandia baru menutup gap keterlibatan politik sebanyak 70% yang dilihat dari kehadiran perempuan di parlemen, kementerian, dan kepala negara.

Indonesia mendapat skor 0,7 dari skor 0-1. Namun, pada keterlibatan politik, Indonesia hanya mendapat skor 0,172. Keterwakilan perempuan di parlemen berada pada ranking 105 (skor 0,211), dan di kementerian pada peringkat 67 (skor 0,307). (OL-14)

 

BERITA TERKAIT