08 March 2020, 15:32 WIB

Pelaku Jamu Keluhkan Harga Bahan Baku Jamu Melambung


Thomas Harming | Humaniora

Para pelaku industri jamu mengeluhkan naiknya harga-harga bahan baku pembuatan jamu pasca ditemukannya kasus virus korona di Tanah Air. Harga bahan baku jamu seperti jahe, kencur, kunyit, temulawak, dan bahan baku lainnya naik sangat signifikan dan kini memberatkan pelaku industri jamu rumahan.

"Terus terang saat ini kami sangat merasakan dampak juga karena bahan baku jamu naiknya sangat signifikan, sementara harga jual jamu tetap stabil," kata Ketua Komunitas Jamu Gendong Indonesia, Laksmi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (8/3).

Ia mencontohkan harga jahe yang biasanya Rp25 ribu per kilogram, kini menjadi Rp80 ribu per kilogram. Sama halnya kencur. Dari harga normal Rp30 ribu menjadi Rp100 ribu. Temulawak dari Rp10 ribu menjadi Rp100 ribu. Dan sereh dari harga Rp10 ribu naik menjadi Rp 40 ribu.

Baca Juga: Gara-Gara Virus Korona, Harga Jahe Merah Naik 4 Kali Lipat

"Ini sangat memberatkan tentunya. Kami merasakan sekali apalagi kan komunitas kami ini adalah ibu-ibu jamu keliling. Kalau dijual mahal juga masyarakat atau pelanggan mengeluh. Jadi serba salah," kata Laksmi.

Saat ini harga jual jamu dengan botol ukuran 600 mili liter adalah Rp20 ribu. "Kita naik Rp5 ribu saja tidak tega juga dan pasti banyak yang protes. Semoga pemerintah bisa segera merespons situasi ini, setidaknya bisa mengendalikan harga di pasaran. Kalau tidak terkendali juga bisa repot kami," keluh Laksmi.

Korona Bikin Harga Jahe Merah Naik Dua Kali Lipat di Siantar

Seiring dengan itu Laksmi juga bersyukur bahwa saat ini masyarakat sudah mulai sadar dengan manfaat rempah-rempah yang menjadi kekayaan Tanah Air terutama untuk menopang daya tahan tubuh di tengah wabah virus korona. "Artinya juga banyak yang tahu manfaat jamu. Itu kita syukuri tapi mohon pada pemerintah agar bisa mengendalikan harga-harga bahan baku jamu tersebut," pungkas Laksmi. (Ths/OL-10)

BERITA TERKAIT