08 March 2020, 14:52 WIB

Buruh Khawatir RUU Ciptaker Pangkas Hak Perempuan


Hilda Julaika | Ekonomi

Sekjen Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) Ikhsan Raharjo mengatakan dalam Rancangan UU (RUU) Cipta Lapangan Kerja (Ciptaker), perempuan adalah pekerja yang paling terdampak.

Ia menyebutkan Pasal 93 di RUU Ciptaker ini menghilangkan jaminan perlindungan berupa cuti haid, cuti melahirkan, dan cuti keguguran. Artinya, jika perempuan tidak bekerja di hari-hari tersebut upah mereka langsung dipotong.

“Dalam UU Ketenagakerjaan yang lama, pekerja perempuan yang melaksanakan cuti haid, melahirkan, dan keguguran itu dipersilahkan dan tidak ada konsekuensi terhadap upah mereka. Tapi di sini yang akan terjadi adalah upah tidak dibayarkan,” ujar Ikhsan beberapa hari yang lalu di Jakarta.

Kekhawatiran senada diungkapkan Ketua Umum Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Jumisih. Dia menilai pasal itu berpotensi memangkas hak buruh perempuan. Menurut dia, dalam RUU tersebut terlihat ada upaya pemiskinan sistematis terhadap buruh perempuan. Termasuk dengan diciptakannya standar upah padat karya di bawah upah minimum yang banyak menyerap buruh perempuan.

“Cuti haid, keguguran dan cuti melahirkan akan semakin sulit didapat oleh buruh perempuan. Juga upaya pemiskinan sistematis terhadap buruh perempuan dengan diciptakannya standar upah padat karya di bawah upah minimum yang banyak menyerap buruh perempuan,” paparnya kepada Media Indonesia, Minggu (8/2).

Dia mengingatkan pemerintah perlu menjamin standar upah layak tanpa diskriminasi. Hal ini merupakan bagian dari upaya mengaktualisasi diri yang semestinya didukung oleh negara.

Ia berpandangan dukungan negara nantinya akan melepaskan beban ganda yang selama ini diletakkan pada pundak perempuan.

“Dengan turut bertanggung jawab atas kerja reproduksi (rumah tangga) yang hingga kini memberikan banyak kontribusi atas kelangsungan bangsa dan memberi banyak keuntungan bagi pemilik modal. Kepedulian negara tersebut salah satunya adalah dengan menyediakan Daycare atau tempat pengasuhan anak buruh yang berkualitas,” paparnya. (E-3)

BERITA TERKAIT