08 March 2020, 13:25 WIB

Suarakan Keadilan Perempuan, Ribuan Orang Long March IWD 2020


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

Sambil meneriakkan yel-yel bernada melawan patriarki, ribuan aktivis baik perempuan maupun laki-laki yang tergabung dalam berbagai komunitas melakukan long march dari depan kantor Bawaslu menuju Taman Aspirasi Monas, Jakarta Pusat pada Minggu (8/3).

Aksi yang diberi nama Gerak Perempuan ini memperingati International Women's Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional 2020 yang dirayakan tepat pada 8 Maret setiap tahunnya.ketidakadilan,

Menurut Jubir Women March Jakarta untuk IWD Metthew Irsang, aksi ini mengangkat berbagai isu perempuan dengan fokus utama melawan ketidakadilan terhadap perempuan. "Kita melawan ketidakadilan terhadap perempuan, penindasan terhadap perempuan terutama tidak hanya yang terjadi langsung di kehidupan nyata, tapi juga di dunia cyber," katanya sebeum long march dimulai. Ia mengatakan akhir-akhir ini banyak perempuan yang aktif begerak melawan isu gender malah di-attack di dunia cyber.

Hal ini seperti yang disuarakan oleh Lauren, 19. Dirinya menyuarakan victim blaming dan tonic immobility, yaitu ketika perempuan yang menjadi korban pelecehan seringkali dinilai bersalah. "Sering banget korban pelecehan dan kekerasan seksual malah disalahkan. Bukan pelaku yang disalahkan. Mereka menyalahkan kenapa perempuan enggak bersuara, kenapa enggak melapor," kata Lauren.

Baca jiga: Peringati Hari Perempuan, Hannah Al Rashid Aksi di CFD

Sementara itu, menurut Raihan, 17, aksi turun ke jalan dimulai pukul 11.00 WIB ini menjadi momen agar pemerintah bisa melihat keberadaan berbagai komunitas, termasuk transgender seperti dirinya. "Karena aku transgender, aku rasa sudah cukup melihat banyak diskriminasi yang dialami perempuan. Jadi, salah satu bentuk yang aku lakukan untuk turun ke jalan biar kita dilihat sama yang punya wewenang," katanya.

Ia menganggap masyarakat Indonesia masih bergantung pada norma sosial baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga sulit untuk bergerak. "Kita harus mendobrak itu. Bahwa perempuan pun bisa menjadi apa saja yang mereka mau," katanya.

IDW kali ini memang merangkul banyak komunitas, mulai dari kaum buruh hingga minoritas lainnya. Ada sekitar 20-30 komunitas dengan target sekitar 5000 peserta yang ikut bergerak bersama. Hal ini dikarenakan tujuan lain adalah menolak Omnimbus Law yang dinilai merugikan perempuan khususnya buruh perempuan.

"Harapannya untuk pemerintah bisa mendengar, setiap tahun korbannya semakin banyak, jadi kita berharap pemerintah terbuka mata dan telinga. Buruh perempuan itu, sudah jatuh ketimpa tangga dimakan macan," pungkas Metthew.

BERITA TERKAIT