08 March 2020, 02:00 WIB

Emil Elestianto Dardak: Memilih Jalan Berisiko


Bus/M-1 | Weekend

KETIKA namanya pertama kali mencuat ke publik pada 2013 bukan karena sepak terjang di dunia politik, melainkan karena Emil Dardak mendadak menjadi selebritas karena menikahi artis yang tengah populer, yakni Arumi Bachsin.

Latar belakang yang banyak disebut hanyalah sebagai profesional muda. Selain itu, dengan nama ­keluarga yang melekat padanya, Emil juga dikenal sebagai anak mantan pejabat, yakni Hermanto Dardak, mantan Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode ­2010-2014.

Meski begitu, di balik dua hal yang paling umum diketahui publik itu, Emil sesungguhnya sudah membuat banyak prestasi atas kerjanya sendiri. Ketika lulus dari program doktoral Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang, pada 2006, Emil mencetak sejarah karena menjadi doktor ekonomi termuda di sana. Kala itu usianya 22 tahun.

Emil yang menempuh gelar master di universitas yang sama dan gelar sarjana di Australia sudah mendapat beasiswa sejak SMA. Selepas menjadi doktor, Emil berkarier di Indonesia dan kemudian dipercaya menjadi Executive Vice President PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

Dengan karier dan kehidupan yang sudah mapan itu, keputusan pria yang juga sempat bekerja di World Bank di Jakarta untuk banting setir ke dunia politik pada 2015, cukup mengagetkan. Saat itu ia masuk bursa pilkada Kabupaten Trenggalek.

Ambisi kekuasaan pun diperta­nyakan padanya. Meski begitu, ia mengaku punya alasan lain. Saat hadir sebagai bintang tamu di acara Kick Andy, Emil mengaku ingin berbuat untuk pembangunan di daerah.

“Imej orang tentang politik mulai berubah. Jadi, masyarakat mulai memberikan apresiasi yang positif kepada kepala daerah yang berhasil membangun daerahnya. Hal inilah yang memotivasi saya, ternyata lanskapnya sudah berbeda, kini ada ruang bagi orang-orang seperti saya untuk bisa mengaktualisasikan apa yang sama dimilik sebesar-besarnya untuk pembangunan daerah,” terang pria kelahiran 1984 itu.

Soal anggapan meninggalkan zona nyaman, seperti yang banyak dilakukan para profesional ketika jenuh di satu titik keberhasilan, Emil tidak sependapat.

“Tidak meninggalkan k­e­nyamanan, tetapi mengambil jalan yang punya risiko tersendiri. Kalau bicara zona nyaman, ­bukan ­berarti mau sengsara atau keluar dari ­kebiasaan. Saya hanya pindah dari ­Jakarta karena dulu saya orang ­korporasi dan tinggal di jakarta dengan segala lifestyle-nya, dan itu yang saya tinggalkan ketika menjabat di daerah. ­Demikian definisi yang tepat untuk ­menggambarkan apa yang saya lakukan sekarang,” tambah Emil yang juga sempat menjadi ­penyanyi jazz itu.

Lebih jauh lagi, menurutnya, pandangan baru masyarakat tentang politik sekarang ini juga mestinya menjadi daya dorong untuk lahirnya sosok-sosok perubahan.(Bus/M-1)

BERITA TERKAIT