08 March 2020, 00:40 WIB

Dilan dan Inspirasi Film Kungfu


Try/M-4 | Weekend

DI film Pendekar Ulat Sutra, sosok Yun Fei Yang semula digambarkan sebagai orang terbuang. Sebagai seorang murid Perguruan Bu Tong, dia kerap dihina dan dipandang rendah oleh rekan-rekan seperguruan.

Sampai suatu ketika, dia bertemu seorang guru yang ilmu dan ajaran kungfunya dianggap melenceng tidak jelas. Namun, dari guru nyeleneh tersebut, Yun Fei Yang berhasil mempelajari ilmu tersebut sehingga menjadi sakti.

Menurut Rektor Universitas Indonesia (UI) Profesor Ari Kuncoro, seharusnya sikap seperti itulah yang dimiliki seseorang dalam mencari ilmu. “Tidak mesti dari bangku pendidikan formal,” ujarnya saat ditemui di Gedung Rektorat UI, beberapa waktu lalu.

Menurut Ari, pendidikan merupakan pencarian. Seorang mahasiswa, kata dia, harus selalu merasa haus mencari tahu dan memformulasikan sebuah solusi yang inovatif. “Makanya, kalau di film kungfu zaman dahulu itu, yang jago bukan murid yang ikut rutin latihan, tetapi justru yang belajar dengan paman guru di luar padepokan,” katanya tertawa.

Lantas, apakah Ari merasa dirinya seperti Yun Fei Yang? “Saya justru seperti Dilan gitu waktu muda. Pemberontak. Saya diam-diam kerja penelitian di luar negeri. Tahu-tahu muncul artikel saya di jurnal internasional,” ujarnya terkekeh.

Dilan yang dimaksud Ari ialah tokoh utama di film Dilan 1990, yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq. Di situ, Dilan digambarkan sebagai murid yang pintar dan urakan. Seusai menamatkan gelar sarjana dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (sekarang Fakultas Ekonomi dan Bisnis) di bidang ekonomi moneter, Ari meraih Master of Arts dari Uni­verity of Minessota dan PhD dalam bidang Ilmu Ekonomi dari Brown University. Dia ialah guru besar bidang ilmu ekonomi di FEB UI dengan Google h-index 14 dan menempati posisi pertama di Indonesia untuk sitasi karya ilmiah berdasarkan Repec.

Selama di luar negeri, Ari memanfaatkan momen itu untuk membangun kerja sama penelitian bersama National Bureau Economic Research (NBER) di Boston dan National Science Foundation (NSF), Amerika Serikat. “Pokoknya masa-masa menjadi peneliti itu saya dahulu seperti Dilan. Ngaco. Kemana-mana saya. Ke Belanda 3 bulan, ke AS 3 bulan, lalu tiba-tiba publikasi saya nongol,” cerita Ari.

Kini, selain sebagai rektor, Ari juga membantu Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk majelis perguruan tinggi nasional di bagian hubungan kerja sama luar negeri.

“Saya membantu PTN bekerja sama dengan penawaran beberapa negara untuk meningkatkan kapasitas dari dosen dan administrasi (manajemen) universitas. Kita sedang kaji untuk memilih universitas yang relevan,” katanya.

Kendati punya banyak network di luar negeri, Ari memilih bekerja di Tanah Air. Dia bahkan berkarier di almamaternya, baik sebagai peneliti maupun pengajar hingga akhirnya terpilih sebagai rektor. “Saya melihat potensi kampus ini besar. Tapi karena ketidakmampuan menghubungkan antardot, semua berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya mengenai alasannya ikut maju dalam pemilihan rekor UI tahun lalu. (Try/M-4)

BERITA TERKAIT