07 March 2020, 15:59 WIB

Pemkab Lembata Siap Operasikan Kapal Phinisi Di Labuan Bajo


Alexander P. Taum | Nusantara

Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kini memiliki sebuah Kapal Phinisi. Kapal yang diberi nama 'Aku Lembata' itu sudah berevolusi dari Kapal jenis Lambo, memiliki 7 layar, dikerjakan CV. Fajar Indah Pratama, dengan nilai kontrak sebesar Rp2.495.900.000.

Pengadaan kapal tersebut menggunakan dana DAK TA 2019 oleh Dinas PUPR Kabupaten Lembata. Kapal yang dibeli oleh Pemerintah Kabupaten Lembata itu akan dioperasikan untuk membangun link Pariwisata yang menghubungkan, Labuan Bajo, Sumba, dan Pulau Timor.

''Ini utuk mempercepat inovasi. Tahun depan kita usul ke Menteri untuk manambah lagi dua unit kapal Phinisi. Ini jadi contoh, bahwa Kabupaten Lembata satu-satunya Kabupaten di NTT yang sudah punya kapal Phinisi untuk inovasi interkoneksi, seperti yang di sebut Gubernur NTT, dalam masyarakat ekonomi NTT,'' ujar Bupati Eliazer Yentji Sunur, Sabtu (7/3) saat meninjau kapal Phinisi yang tiba di Pelabuhan Laut Lewoleba.

Putra Jak Nuh, Pelaksana CV Payaraya Maros yang mengerjakan Kapal Phinisi ini menjelaskan kapal yang dikerjakan itu berstandar kapal pesiar.

''Ini standar operasional kapal pesiar. Kapal bisa mengangkut 20 orang penumpang, dilengkapi 4 kamar tamu yang bisa menampung 10 orang. Satu kamar VIP untuk satu keluarga, 2 kamar crew. Kita tambahkan kamar meeting. Jadi kalau Pemda ada mau menetapkan APBD II, bisa dilakukan di atas Kapal Phinisi Aku Lembata. Ini standar kapal pesiar jadi harus dilengkapi dengan koki, chip, dan laundry,'' ujar Putra Jack Nuh.

Pelaksana pengadaan kapal ini menjelaskan, kapal ini belum tuntas, namun akan diselesaikan hingga dua bulan mendatang. ''Insya Allah dalam satu dua bulan ke depan kita bisa tuntaskan. Karna kita hanya disiapkan 150 hari kerja untuk kapal ini, waktu yang sangat singkat untuk pembuatan kapal ini,'' ujar Putra Jack Nu.

Ia menjelaskan meski diburu waktu, dalam jangka waktu enam bulan, kapal ini sudah ada di Lembata.

Kapal Phinisi itu dibuat di Tanah Beru, Kabupaten Bulu Kumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Butuh waktu 3 hari 2 malam pelayaran dari Tanah Beru, pusat pembuatan Kapal Phinisi. Kapal bermesin 9 knot, RPM 2500, bermesin 6 silinder ini butuh BBM 30 liter per jam. Mesin 6 Slinder ini di atas kapasitas 360 HP. ''Yang saya bilang Link itu, ini,'' ujar Bupati Kabupaten Lembata, Eliazer Yantji Sunur.

Sementara itu, Ferdi Pegan, warga kota Lewoleba, Kabupaten Lembata berharap, kapal Phinisi itu dapat dikelola secara professional agar memberi manfaat ekonomis pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lembata.

''Banyak pengalaman, pengelolaan kapal yang tidak professional akan menyebabkan mubazir. Derah akan rugi kalau tidak dikelola dengan profesional,'' ujar warga kota Lewoleba. (PT/OL-10)

BERITA TERKAIT