07 March 2020, 09:15 WIB

Kapal Minim Senjata Jadi Andalan di Natuna


Cah/P-2 | Politik dan Hukum

BAK kisah Nabi Daud AS melawan Jalut, armada Badan Keamanan Laut (Bakamla) kerap dengan minim persenjataan harus menghadapi sekawanan pencuri sumber daya laut yang dikawal kapal bersenjata lengkap. Bahkan, kapal patroli terbesar dalam armada Bakamla, Kapal Negara (KN) Tanjung Datu 301, mengalami hal itu.

Kapal buatan anak negeri yang diresmikan 18 Januari dua tahun lalu itu belum dilengkapi satu pucuk pun meriam untuk mengantisipasi perlawanan saat patroli. Padahal, tugas yang diemban kapal terbesar Bakamla ini sangat berat, yakni menjaga keamanan di perairan Nusantara.

Tidak jarang, satu-satunya kapal patroli Bakamla yang mampu menampung hingga 76 awak ini harus berhadapan dengan kapal asing bermeriam dan persenjataan lain. Jumlah awak kapal pun hanya 38 orang.

Itu seperti terjadi saat KN Tanjung Datu yang berusaha menghalau 31 hingga yang paling banyak 64 kapal nelayan. Kapal-kapal nelayan tersebut dikawal tiga kapal Tiongkok Coast Guard di Laut Natuna Utara.

Istimewanya, Kolonel Bakamla Captain Nyoto Saptono, selaku pejabat komandan kapal dengan panjang 110 meter dan lebar 15,5 meter, ini, tidak pernah gentar, meskipun kalah jumlah dan senjata. Dalam kejadian yang berulang hingga 3 kali, yaitu 19 dan 24 Desember 2019, serta awal Januari tahun ini, KN Tanjung Datu mampu mengusir para pencuri dan pengawal mereka.

"Betul, (kami) dengan tanpa senjata mengusir nelayan dengan pengawalan Tiongkok Coast Guard yang perlengkapan senjatanya lengkap," tutur Nyoto saat ditemui di atas KN Tanjung Datu, Batam, Kepulauan Riau, kemarin.

Menurut dia, pelaksanaan operasi di Laut Natuna Utara yang sempat menyita perhatian masyarakat ini dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian dan prosedur operasi yang telah digariskan.

Selain memanfaatkan pengalaman, komandan kapal juga harus membuat kalkulasi operasi. Misalnya, menghitung jumlah dan kekuatan lawan, kondisi gelombang dan cuaca, serta potensi dan konsekuensi yang kemungkinan muncul.

"Dengan kalkulasi, paling tidak kita di sana bebas manuver. Kalau bicara kapal dan senjata, sudah jauh di atas mereka," jelas pria yang memulai karier dari Korps Polisi Air dan Udara itu.

Kendati sejauh ini mampu menghalau kapal asing, Captain Nyoto menyatakan KN Tanjung Datu tetap memerlukan peningkatan persenjataan, khususnya meriam. Jumlah awak juga perlu ditambah hingga mencapai ideal 76 awak.

Nyoto juga menyarankan peningkatan teknologi radar untuk pemantauan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang luasnya 200 mil.

"Radar kita baru bisa meng-cover 98-an mil. Maka surveillance kantor pusat perlu diperkuat untuk meningkatkan pengawasan." (Cah/P-2)

BERITA TERKAIT