07 March 2020, 08:52 WIB

Korona, Wuhan, dan Indonesia


Budy Sugandi Kandidat PhD jurusan Education Leadership and Management, Southwest University China, Peneliti Utama Arus Survei Indonesia | Opini

PRESIDEN Jokowi, Senin (2/3), mengumumkan dua orang Indonesia positif korona. Peng­umuman ini menambahkan Indonesia sebagai negara di luar Tiongkok, seperti Singapura, Korea Selatan, Italia, Iran, dan Amerika, yang juga sudah terkena wabah virus korona.

Pengumuman ini juga menjadi peringatan bagi seluruh warga Indonesia untuk lebih berhati-hati agar tidak tertular virus yang awalnya menimpa masyarakat Kota Wuhan, Tiong­kok, pada akhir Desember 2019.

Virus korona merupakan virus 2019 novel coronavirus (2019-nCoV). Infeksi virus ini disebut covid-19 yang bisa mengakibatkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, dan pada kasus yang parah bisa menyebabkan kematian. Hingga saat ini total di seluruh dunia yang terinfeksi 93.124, mati 3.201, dan sembuh 50.823 (One Tube Daily, 4/3/2020)

Dalam tulisan ini saya akan berbagi pegamatan pribadi saya, bagaimana pemerintah dan masyarakat Wuhan bersatu melawan virus ini meskipun Kota Chongqing yang merupakan kota tempat saya studi berjarak lumayan jauh dengan Kota Wuhan, yaitu sekitar 1.000 km. Saya sudah kembali ke Indonesia sejak awal Januari 2020. Namun, saya cukup mengikuti dinamika perkembangan masyarakat Wuhan pada khususnya dan Tiongkok pada umumnya. Terutama, pada akhir Januari dan Februari yang merupakan puncak virus ini memakan korban.

Kesigapan pemerintah Tiongkok

Peran Pemerintah Tiongkok ketika menghadapi musibah ini sangat luar biasa. Seperti yang ramai diberitakan bahwa mereka berhasil membangun rumah sakit khusus untuk pasien korona hanya dalam waktu 10 hari. Karena waktunya yang singkat, banyak yang mengatakan ini ibarat proyek ‘Roro Jonggrang’ di abad ke-21.

Rumah sakit bernama Huoshenshan itu mulai menerima pasien yang terjangkit virus korona pada 3 Februari di Wuhan dengan kapasitas 1.000 pasien (China Daily, 13/2/2020).

Sejak 23 Januari, sebagai langkah pencegahan, pemerintah pusat berkoordinasi dengan pemerintah lokal melakukan isolasi terhadap Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Pesawat, kereta dan bus yang datang dan pergi ke luar kota ditutup. Di wilayah perbatasan dan beberapa lokasi kunci petugas diturunkan terutama di gerbang tol untuk melakukan pengecekean suhu badan dengan thermo scanner.

Di kampus saya, Southwest University Chongqing yang sekali lagi lokasinya bukan di Kota Wuhan, para mahasiswa internasional yang tinggal di asrama dipantau perkembangannya secara berkala. Jika ada yang kurang sehat, ada staf yang siap membawa ke dokter. Meskipun demikian, kehidupan berjalan normal. Mereka bisa masak sendiri atau makan di kantin.

Setiap orang diberi termo­meter untuk mengecek suhu dan setiap sore ada petugas datang ke kamar untuk melakukan cek suhu badan sekaligus mendata suhu badan yang sudah diukur sendiri pada pagi hari.

Berita terbaru, di Tiongkok kasus korona turun tajam. Bahkan, Wuhan menutup 1 dari 16 rumah sakit darurat setelah mengeluarkan pasien terakhir yang sembuh di rumah sakit itu.

Kesadaran masyarakat

Tentu tidak mudah ketika berhadapan langsung dengan situasi yang terjadi di Wuhan. Saya mendapatkan cerita dari salah satu pelajar yang mengalami masa-masa genting itu hingga akhirnya pemerintah Indonesia berhasil mengevakuasi 238 WNI di Wuhan kembali ke Tanah Air dan mengikuti masa observasi selama 14 hari di Natuna.

Dia bercerita bahwa hari-hari memang banyak dihabiskan di apartemen atau asrama. Ketika ke luar mereka harus memakai masker. Market yang menjual sembako selalu ramai. Namun, ada spirit kebersamaan yang menjadi modal untuk membalik keadaan Wuhan bisa kembali normal.

Di jagat media sosial, masyarakat Tiongkok lebih memilih saling menyebarkan informasi positif ketimbang informasi provokatif. Melalui Wechat mereka biasa berbagi informasi di grup-grup Wechat dan di timeline berupa lokasi kesediaan masker, pola hidup sehat, serta hal-hal yang perlu dihindar sehingga tidak mengherankan jika kita pernah melihat ada video yang diunggah berupa teriakan bersahut-sahutan, “Wuhan jiayou, Wuhan jiayou!.”

Bersatu melawan korona

Setelah pengumuman 2 ­orang yang positif tekena virus korona, pemerintah Indonesia harus lebih antisipatif, waspada, dan melakukan langkah-langkah khusus sehingga virus ini tidak menyebar ke mana-mana.

Dalam hal ini kita bisa belajar dari pemerintah Tiongkok seperti melakukan ‘jemput bola’ dengan melakukan pengecekan suhu badan di beberapa lokasi tertentu karena masih banyak masyarakat Indonesia yang ketika sakit memilih berobat sendiri di rumah.

Pernyataan-pernyataan dari pejabat publik juga seharusnya dijaga sehingga tidak membuat masyarakat bingung dan gaduh. Termasuk, fasilitas medis yang mendukung harus disiapkan untuk menangani mereka yang terkena virus ini. Media TV dan koran (cetak dan elektronik) juga punya tanggung jawab untuk memberitakan berita yang edukatif kepada masyarakat.

Selain itu, dukungan masyarakat agar bersatu melawan dan terbebas dari virus ini. Kita seyogianya lebih bijak bermedia sosial, tidak menyebar ketakutan apalagi hoaks. Para artis dan influencer mungkin bisa membuat konten positif mengingat masyarakat Indonesia sangat akrab dengan media sosial.

Hal lain, dalam menghadapi situasi seperti ini, jangan sampai ada yang menimbun sembako dan masker bahkan menaikkan harga. Mereka yang ingin mengambil keuntungan pribadi di atas penderitaan perlu ditindak tegas secara hukum sebagai perbuatan ilegal.

Pengawasan di bandara harus lebih diperketat. Pemerintah harus bertindak preventif di seluruh bandara internasional di seluruh Indonesia dengan menerapkan standar resmi dari World Health Organization (WHO).

Pada akhirnya, mari kita terus menggalakkan hidup sehat, berpikir positif dan berdoa. Jangan sampai panik berlebihan yang mengakibatkan kita ‘mati’ padahal tidak terkena virus korona. Seperti analogi yang dikisahkan no­velis Anthony de Mello:

Wabah sedang menuju Damaskus, dan melewati seorang Kafilah di padang gurun. “Mau ke mana kau Wabah?” tanya Kafilah. “Mau ke Damaskus, mau merenggut 1000 nyawa”.

Sekembalinya dari Damaskus, Si Wabah ketemu lagi sama Kafilah itu, dan Kafilah protes, “Hai Wabah, kau merenggut 50.000 nyawa, bukan 1000 seperti katamu” “Tidak”, kata Wabah, “Saya benar ambil 1000 nyawa, sisanya mati karena ketakutan”.

BERITA TERKAIT