07 March 2020, 08:05 WIB

Iran Batasi Mobilitas Antarkota


BBC/AFP/Nur/Hym/X-8 | Internasional

IRAN membatasi perjalanan antarkota besar dalam upaya menghentikan penyebaran virus korona yang telah menewaskan sedikitnya 107 orang di negeri itu. Menteri Kesehatan Iran Saeed Namaki mengatakan pos pemeriksaan akan ditambah.

Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi kemarin, Namaki mengatakan perjalanan sangat berbahaya dan laporan menunjukkan banyak mobil di jalan membawa virus ke daerah-daerah yang tidak terinfeksi. Iran pun telah menutup sekolah dan universitas hingga April.

Namaki menegaskan masyarakat tidak boleh menggunakan waktu libur tersebut sebagai kesempatan untuk bepergian.

“Mereka harus tinggal di rumah dan menganggap serius peringatan kami. Virus ini sangat menular. Ini masalah serius, jangan bercanda tentang itu,” tegasnya.

Selain membatasi perjalanan, imbuh Namaki, pihaknya juga mendesak warga Iran untuk mengurangi penggunaan uang kertas. Langkah-langkah tersebut diambil ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa beberapa negara tak berbuat cukup banyak untuk menghentikan penyebaran virus korona baru (covid-19).

Iran ialah salah satu negara yang paling parah terkena covid-19 di luar Tiongkok.

Di seluruh dunia, pihak berwenang telah mengonfirmasi ada lebih dari 92 ribu kasus virus korona dan lebih dari 80 ribu kasus berada di Tiongkok. Virus korona juga telah menyebabkan lebih dari 3.000 penderita meninggal dunia, sebagian besar di Tiongkok.

Korban tewas di Iran pada Kamis (5/3) bertambah 15 orang sehingga total menjadi 107 orang. Adapun jumlah kasus yang dikonfirmasi meningkat 591 menjadi 3.513. Kantor berita Iran, IRNA, mengutip data dari sebuah universitas, bahkan menyebutkan jumlah yang meninggal bisa lebih banyak.

Data itu tidak termasuk statistik dari Ibu Kota Teheran dan Provinsi Gilan yang paling terdampak virus korona. Korban di kedua wilayah itu terdaftar sebagai tidak diketahui, kata IRNA.

Bulan lalu sumber di negara itu mengatakan kepada BBC Iran bahwa jumlah kematian sedikitnya 210 orang, sebagian besar korban di Teheran dan kota suci Qom.

Di antara yang meninggal ialah seorang penasihat Menteri Luar Negeri Iran yang ikut serta dalam krisis sandera kedutaan AS pada 1979. Hossein Sheikholeslam, seorang veteran dan diplomat revolusioner, meninggal pada Kamis (5/3) malam, ungkap IRNA. (BBC/AFP/Nur/Hym/X-8)

BERITA TERKAIT