07 March 2020, 06:15 WIB

Produksi Masker Dikebut


Faustinus Nua | Humaniora

MASKER merupakan salah satu barang yang paling dibutuhkan saat ini untuk mencegah penularan wabah virus korona baru atau covid-19. Karena itu, Badan Usaha Milik Negara PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) berjanji akan mengebut produksi satu juta masker untuk memenuhi kebutuhan.

“Target minimal bulan ini bisa produksi satu juta. Kalau barang masuk, cepat produksi seminggu selesai,” ujar Direktur Utama RNI Eko Taufik Wibowo di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin.

Untuk membuatnya, BUMN yang bergerak di sektor produksi dan distribusi agrikultur, farmasi, dan perdagangan itu akan menggunakan bahan baku stok lama yang diperoleh dari Tiongkok sambil menunggu kepastian impor dari Eropa. Bahan baku yang dimaksud ialah bagian dalam masker yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.

“Ada (bahan baku) di Prancis, tapi sampai sekarang belum dikasih, mungkin permintaan juga banyak negara lain atau dia protect produksi dia.”

Keterbatasan stok bahan baku itu juga membuat RNI menghentikan ekspor masker dan membatasi penjualan masker buatannya.

“Eggak boleh jual, kecuali untuk Kimia Farma, untuk emergency,” tuturnya.

Pembatasan penjualan mas­ker juga dilakukan apotek dan toko obat. “Kami membatasi jumlah pembelian masker 2 buah seorang seharga Rp2.000/pcs untuk menjaga ketersediaan,” kata Maulidatul Hasanah, apoteker Kimia Farma Bangkalan, Jawa Timur, kemarin.

Di Bangkalan dan juga dae­rah-daerah lain, masker sudah langka, bahkan hilang dari peredaran. Masna Pasaribu, 40, warga Tapanuli Utara, Sumut, mengatakan kelangkaan masker terjadi sejak awal Maret.

Dari sidaknya, kemarin, Alex­ander Gultom, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara, mendapati tidak ada satu pun apotek dan toko obat yang memiliki stok masker.

Demikian juga dengan sidak yang dilakukan Polda Kalsel ke sejumlah lokasi pusat perdagangan, salah satunya Gudang Indomaret dan Indogrosir di Kabupaten Banjar, kemarin.

Menkopolhukam Mahfud MD mempersilakan pihak kepolisian untuk menjual masker hasil sitaannya kepada masyarakat dengan sejumlah catatan. “Yang penting dipertanggungjawabkan dan masyarakat butuh supaya dilayani,” ujar Mahfud di Jakarta, kemarin.

Utamakan paramedis

Di tengah kelangkaan ini, sejumlah daerah tetap berupaya memenuhi kebutuhan masker, khususnya untuk paramedis dan warga yang sakit. Juru Bicara Gubernur Jambi Johansyah menyampaikan pihaknya telah menyediakan 700 ribu masker bedah dan 7.800 masker N-95.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku berupaya keras mendapatkan stok satu juta masker untuk warga Jakarta. Pihaknya melihat adanya peningkatan harga yang tidak masuk akal sehingga Pasar Jaya melakukan operasi pasar.

Selain di Pasar Pramuka, stok masker terdapat di 87 lokasi gerai Pasar Jaya yang dijual Rp1.950 per lembar, tapi ­pembeliannya dibatasi dua saja.

Dinkes Tasikmalaya, Jabar, juga sudah menyiapkan 10 ribu boks masker untuk kebutuhan medis. (MG/JH/DY/YH/SL/AD/Ins/Ind/H-2)

BERITA TERKAIT