07 March 2020, 02:00 WIB

Sang Kosmopolit Tokoh Gagal yang Berhasil


Furqon Ulya Himawan | Weekend

SUATU saat seorang tokoh mendapat pertanya­an wartawan tentang cita-cita dan obsesinya yang sebenarnya. Pertanyaan itu dilontarkan karena ketika Orde Baru berkuasa, tokoh itu aktif dan getol mengkritisi dan memprotes pemerintah bersangkutan. Bisa jadi kritisnya sang tokoh hanya taktik bernegosiasi kepada pemerintah agar mendapat jatah posisi menteri.

Dengan enteng sang tokoh memberikan jawaban tentang obsesi­nya. “Menulis novel.”
Begitulah jawaban tokoh itu yang tak lain ialah (mendiang) Abdurrahman Wahid atau karib disapa Gus Dur.

Obsesi Gus Dur memang keren. Bisa saja namanya akan bersan­ding dengan novelis hebat, seperti Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari dan mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta atau Magsaysay. Pun karyanya akan menjadi bahan skripsi atau tesis dan disertasi. Namun, kenyataannya, obsesi itu tak pernah terealisasi alias gagal.

Gagalnya Gus Dur menjadi novelis bukanlah kegagalan yang pertama. Dalam hidupnya, Gus Dur telah mengalami kegagalan demi kegagalan, laksana orang yang melewati sebuah terowong­an kegagalan. Jadi, ya kegagalan yang Gus Dur dapatkan, namanya saja terowongan kegagalan.

Misalnya, ketika kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 1962. Kuliahnya hanya berjalan 2 tahun. Gus Dur tak melanjutkan karena baginya kurikulum di sana banyak mengulang pelajaran pesantren yang telah ia dapatkan. Gus Dur lalu pindah ke Irak dan mengambil kuliah di Universitas Baghdad, lulus dalam waktu 4 tahun.

Kelulusan ini tampaknya tak mampu membawa Gus Dur ke jenjang pendidikan selanjutnya. Pasalnya, ijazah dari Universitas Baghdad tak bisa ia pakai untuk melanjutkan kuliah di Universitas Leiden, Belanda. Alasannya, ijazahnya tak diakui.

Peruntungan coba Gus Dur raih lagi. Dia berencana mendaftar kuliah di McGill University, Kanada. Namun, entah mengapa rencana itu gagal juga. Gus Dur lalu kembali ke Tebuireng, Jombang, mengajar di pesantren dan Universitas Hasyim Asy’ari yang dikelola pesantren. Gus Dur juga mencoba peruntungan dengan mendaftar sebagai dosen di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Hasilnya sama, tidak diterima.

Begitulah yang Hairus Salim HS uraikan dalam buku berjudul Sang Kosmopolit. Sebuah buku kumpulan esai yang menguraikan kehidupan sosok Gus Dur. Memang sudah banyak ulasan buku tentang kehidupan Gus Dur, tapi di buku Sang Kosmopolit, melalui sejumlah tulisan esainya, Hairus Salim mampu mengungkap sisi lain kehidupan Gus Dur.

‘Duh Gus, kurang pintar apa sampean? Selain itu, sampean juga anak mantan menteri agama dan cucu pendiri NU’. Begitu tulis Hairus Salim dalam esai berjudul Tokoh Gagal yang Berhasil (hal 1-7) di bagian awal buku Sang Kosmopolit.

Dalam mengulas sosok Gus Dur, Hairus Salim mampu menuliskannya secara apik dan santai. Tulisannya mengalir begitu saja, tapi tetap argumentatif dan berbobot. Tak jarang Hairus Salim memasukkan unsur guyonan ala santri dan ini menjadi bumbu-bumbu segar tersendiri yang membuat esai-esai Hairus Salim begitu ringan.

Misalnya, dalam esai berjudul Tokoh Gagal yang Berhasil. Di esai ini Hairus Salim mampu memberikan penjelasan bahwa Gus Dur sebenarnya manusia biasa yang juga pernah mengalami kegagalan. Penjelasan itu diutarakannya lewat tulisan yang bernada guyon, tapi tak mengurangi maknanya.

‘Anda yang sedang atau pernah menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel, jelas lebih hebat dari Gus Dur. Jadi dosen di kampus itu tentu prestasi besar. Orang sekelas Gus Dur saja tidak bisa sampai ke titik itu. Kibaskanlah kipas Anda!” Tulis Hairus Salim tentang kegagalan Gus Dur menjadi dosen IAIN Sunan Ampel.

Sebagai novelis, misalnya, benar Gus Dur akan mendapati posisi tinggi yang keren dan bersan­ding dengan Pramoedya Ananta Toer atau Ahamd Tohari serta mendapat banyak penghargaan. Akan tetapi, itu jika novel-novel dan karya Gus Dur berhasil dan bagus.

‘Jika buruk, setelah terbit 1.000 eksemplar, sulit dijual. Penerbit letih memasarkan. Novel dan Gus Dur sebagai penulisnya akan menguap ditelan waktu. Hilang dan terlupakan,’ komentar Hairus Salim soal obsesi Gus Dur menulis novel.

Sang kosmopolit

Kehidupan Gus Dur yang Hairus Salim urai dalam buku Sang Kosmopolit tak melulu soal kegagalan. Di esai berjudul Menjadi Seorang Kosmopolit (hal 127-133), Hairus Salim menuliskan satu momentum khusus yang membuat Gus Dur merasa bangga. Bukan menjadi presiden. Momentum tersebut terjadi sebelumnya, pada medio 1991.

Saat itu, seorang tokoh agama dari India, Swami Shanti Prakash, berkunjung ke Jakarta untuk sebuah acara. Di situ, banyak umat Hindu yang hadir. Mereka duduk melingkar mengelilingi sang pendeta. Swami Shanti Prakash ialah pendeta agama Hindu yang sangat dihormati. Hampir setiap hari sang pendeta memberi makan jutaan orang miskin di 108 kuil di India. Saban tahun presiden India membersihkan kaki sang pendeta dengan air susu.

Gus Dur hadir di acara Swami Shanti Prakash. Ketika Gus Dur hendak memasuki lingkaran, Swami Shanti Prakash menyambutnya dengan merentangkan tangan dan memeluk Gus Dur. Sambil memeluk, pendeta itu membisikkan kata-kata kepada Gus Dur. “Saya titip umat Hindu di sini.”

Bagi Gus Dur, itulah momentum paling membanggakan dalam perjalanan hidupnya dan merasa hidupnya tidak sia-sia karena diakui sebagai warga umat manusia. Kebanggaan Gus Dur dibandingkan saat bertemu dengan banyak tokoh politik dunia.

‘Gus Dur telah diakui sebagai orang kosmopolitan,’ tulis Hairus Salim.

Namun, kosmopolitannya Gus Dur tak tersekat agama. Agama justru menjadi titik tolak untuk mempraktikkan nilai-nilai universal dalam Islam, yakni keter­bukaan, kesediaan berdialog dengan kebudayaan-kebudayaan lain, kepercayaan dirinya, juga keberanian membuat terobosan-terobosan ilmu pengetahuan di bidang seni dan kebudayaan.

‘Gus Dur memperlihatkan dengan baik gambaran pribadi di sepanjang hidupnya, meski harus berhadapan dengan kekuat­an-kekuatan konservatif yang mengerangkeng Islam sebagai agama beku dan baku,’ tulis Hairus Salim.

Jembatan antarkotak

Mengulas sosok Gus Dur tampaknya serasa kurang jika belum mengulik sisi humoris­nya. Dalam buku ini, Hairus Salim pun mengetengahkannya dalam esai berjudul Humor sebagai Sarana Dialog (hal 59-67).

Humor, urai Hairus Salim, Gus Dur jagonya. Ada Gus Dur, di situ ada gelak tawa. Akan tetapi, bagi Hairus Salim, humornya Gus Dur sejatinya sebentuk jembatan dialog dengan beragam kalangan, termasuk yang berbeda agama.

Salah satu fungsi humor, menurut Gus Dur, ialah sarana untuk menabrak batasan; menghindari stres. Menabrak segala batasan ialah mampu keluar dari kotak-kotak primordial--entah itu kotak agama, suku, kelas, bahasa, dan batasan lainnya. Orang bisa mati dan bunuh-bunuhan karena kotak itu dan fungsi humor ialah pelebur sekaligus jembatan antarkotak tersebut.

‘Masyarakat yang masih memiliki rasa humor adalah masyarakat yang sehat. Rasa humor yang tinggi menunjukkan daya tahan yang tinggi di hadapan kepahitan dan kesengsaraan hidup,’ tulis Hairus Salim.

Banyak esai lain yang mengulas kehidupan Gus Dur. Setidaknya ada sekitar 16 kumpulan esai yang ditemukan dalam buku Sang Kosmopolit. Bukan esai baru karena sebagian esai sudah pernah dimuat di sejumlah media. Namun, dalam buku ini, semuanya telah mendapat penambahan dan penajaman data.

Hairus Salim sendiri ialah sosok yang ikut mendirikan YLKIS dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Ia tergolong penulis esai dan peneliti yang produktif karena tak sedikit karyanya yang diterbitkan menjadi buku seperti Tuhan yang Tersembunyi dan penelitian bersama Iqbal Ahnaf, peneliti CRCS UGM, berjudul Krisis Keistimewaan Yogyakarta.

Pergumulannya dengan Gus Dur dia mulai semasa kuliah dan ketika aktif di YLKIS. Gus Dur sering menyempatkan berkunjung ke lembaga itu ketika pergi ke Yogyakarta. Dari situlah, Hairus Salim mengaku banyak belajar dari sosok yang dia kagumi tersebut.

‘Sebagian dari kisah-kisah keakraban kami, khususnya kesan pribadi yang saya rasakan, muncul di beberapa esai dalam buku ini. Sebagian lagi adalah pembacaan terhadap sepak terjang politik dan pemikiran Gus Dur,’ tulis Hairus Salim dalam pembuka buku.

Dus, tak heran jika Hairus Salim bisa memberikan uraian berbeda soal kehidupan Gus Dur ketimbang buku lain yang mengulas tokoh serupa. Seperti ketika Hairus Salim menulis esai berjudul Tokoh Gagal yang Berhasil. (M-2)

BERITA TERKAIT