07 March 2020, 04:40 WIB

Warga Italia Berjuang ketika Sektor Pendidikan Ditutup


The Guardian/AFP/I-1 | Internasional

PARA siswa, orangtua, dan guru tengah berjuang atas keputusan pemerintah Italia yang menutup semua sekolah dan universitas di seluruh negeri hingga 15 Maret.

Hal itu dilakukan karena negara tersebut berjuang untuk menangani wabah virus korona terburuk di Eropa. Virus itu telah merenggut 148 nyawa di negara itu, Kamis (5/3) malam, berdasarkan angka pemerintah.

Keputusan atas penutupan sektor pendidikan itu diakui Maurizio Bufalini, 45, yang bekerja di pengadilan di Ferrara, sebagai hal yang tidak mudah.

“Saya dan istri saya harus menggunakan liburan kami dan cuti untuk tinggal di rumah bersama putri kecil kami. Saya harap pemerintah akan segera melakukan intervensi, jika tidak, ini akan menjadi bencana,” katanya, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (5/3).

Sekolah-sekolah sudah ditutup di wilayah utara yang terkena dampak virus korona paling parah, termasuk Lombardy, Veneto, Piedmont dan Friuli Venezia Giulia, serta bagian dari Liguria dan Marche. Namun, pada Kamis, penutupan dilakukan di seluruh negeri dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus korona.

“Saya punya dua anak dan si kecil ikut taman kanak-kanak swasta yang tidak akan mengembalikan biaya bulanannya,” kata Rosamaria Battaglia, 33, yang bekerja di sebuah badan kelautan di Palermo.

Pekan ini, ia akan mempunyai seorang pengasuh anak. Namun, ia berharap pekan depan ada solusi yang lebih ekonomis sebagai jalan keluarnya. “Menjadi seorang ibu dan seorang pekerja di Italia selama wabah covid-19 benar-benar sulit,” akunya.

Pemerintah telah mengumumkan akan menyediakan €7,5 miliar untuk membantu para keluarga dan perusahaan. Selain itu, pemerintah juga sedang mengevaluasi kemungkinan memberikan dukungan kepada para keluarga, termasuk penggantian biaya pengasuhan anak dan cuti di luar tanggungan­ dari tempat kerja.

Roberta Bivona, 27, seorang mahasiswa sastra di University of Palermo, dijadwalkan untuk bertemu panel profesor membahas skripsinya pada 11 Maret. “Awalnya mereka memberi tahu saya bahwa sidang skripsi saya berlangsung tanpa peninjau.”

“Sekarang semuanya telah berubah dengan ditutupnya universitas. Kemarin, kami menerima e-mail dari rektor universitas, yang sedang mempertimbangkan kemungkinan sidang skripsi melalui Skype,” ucapnya.

Suasana sebaliknya terjadi di Tiongkok. Sekolah-sekolah di provinsi yang tidak mencatat kasus baru selama lebih dari dua minggu mulai menetapkan tanggal untuk pembukaan kembali sekolah.
Qinghai, provinsi barat laut di Tiongkok yang telah melaporkan tidak ada infeksi baru selama 29 hari sejak 5 Maret mulai menetapkan tanggal mulai masuk sekolah yang berbeda dari 11-20 Maret.

Provinsi Guizhou di barat daya yang melaporkan tidak ada infeksi baru selama 18 hari, sekolah akan dimulai dari 16 Maret. (The Guardian/AFP/I-1)

BERITA TERKAIT