06 March 2020, 22:33 WIB

Tokoh Agama di Nagekeo Minta Judi Berkedok Pasar Malam Ditutup


Ignas Kunda | Nusantara

TOKOH agama mengecam praktik judi berkedok pasar malam di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Seperti diungkapkan Imam Masjid Al Itihad Nangaroro Ridwan Sulaiman yang menyesalkan aktivitas rolet di pasar malam.

"Itu adalah bentuk perjudian yang dilarang oleh agama manapun," katanya.

Baca juga: Keluarga Korban Anggap Bentrokan di Desa Sandosi sebagai Musibah

Ridwan menyatakan kehadiran pasar malam harusnya menampilkan aksi yang menghibur masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat, bukan malah menghabiskan uang masyarakat.

"Yang pergi ke pasar malam itu, selain orang dewasa, ada anak-anak sekolah.Tentu aktivitas perjudian yang disajikan di tempat tersebut akan berdampak buruk bagi pembentukan karakter anak. Sebab anak-anak akan dengan mudah menirukan hal-hal yang mereka lihat," ujarnya.

Baca juga: Komnas PA Pertanyakan Kasus Pengeroyokan Anak oleh ASN di Lembata

Ridwan menyayangkan kegiatan tersebut terkesan dibiarkan, malah diadakan hampir di seluruh kecamatan dalam wilayah Kabupaten Nagekeo. "Katanya Kabupaten Nagekeo kabupaten literasi. Bukannya baca buku di jam belajar, anak-anak malah disajikan rolet. Mau jadi apa mereka nanti?" tegasnya.

Ridwan berharap agar aktivitas tersebut dapat segera ditertibkan sebab tidak bermanfaat.

"Kalau aktivitasnya positif semisal kuliner atau panggung kesenian, tentu kita dukung.Tetapi kalau judi, saya rasa kita semua tahu hal tersebut dilarang agama dan hukum," tandasnya.

Baca juga: Kesulitan Air Bersih, Warga Dusun Nagekeo Jarang Mandi

Pemimpin Ordo OFS Sibolga di Nangaroro Suster Martina Mendrofa, OFS, juga menyayangkan aktivitas pasar malam tersebut dilaksanakan di masa umat Katolik sedang dalam masa puasa menyongsong paskah.

"Sayang sekali, seperti ada kesan dibiarkan karena sudah berlangsung beberapa hari. Padahal ini masa puasa. Harusnya umat Katolik mempersiapkan diri dengan baik, bukan malah melakukan berjudi di arena pasar malam. Saya secara pribadi, tidak setuju aktivitas tersebut dilaksanakan,"tegasnya.

Suster Martina lebih memprihatinkan pada kehadiran anak-anak usia sekolah pada arena pasar malam tersebut. "Seharusnya mereka belajar di rumah, terutama saat ini masa persiapan menjelang ujian, baik ujian nasional maupun ujian sekolah.Saya harapkan orangtua harus lebih ketat mengawasi anak-anak mereka untuk tidak terlibat aktivitas perjudian rolet di arena pasar malam," tegasnya.

Suster Martina menilai, semestinya Pemda Nagekeo dan pihak berwajib mengawasi secara ketat setiap pelaksanaan hiburan. "Jangan sampai ada perjudian atau aktivitas lain yang tidak mendidik, malah berakibat buruk pada masyarakat. Seharusnya kegiatan yang didorong adalah kegiatan pendidikan yang positif dan akan membetuk karakter generasi muda atau mendorong peningkatan ekonomi masyarakat," harapnya.

Suster Martina meminta pasar malam tersebut dihentikan oleh pemerintah atau pihak berwajib.

"Kalau dibiarkan, kegiatan tersebut berpotensi mengganggu hubungan sosial dan hubungan antarpribadi. Banyak uang akan terbuang di tempat tersebut. Padahal masyatakat banyak yang mengaku kurang mampu, dibuktikan dengan jumlah penerima bantuan sosial dari pemerintah, tapi mengapa pasar malam selalu ramai?" tambahnya.

Suster Martina juga menilai suara musik yang sangat keras dari pasar malam dapat mengganggu masyarakat sekitar.

"Biar di Nangaroro mati lampu, tetapi tempat itu tetap terang dan ramai. Jelas saja, orang akan mengunjungi, padahal aktivitas di sana melanggar aturan agama dan hukum," tandasnya.

Camat Nangaroro Gaspar Taka menyatakan pihaknya telah mengetahui adanya kegiatan pasar malam tetapi tidak tahu adanya aktivitas judi.

"Saya memang tahu ada pasar malam, tapi saya tidak tahu ada perjudian. Nanti akan saya cari tahu lebih lanjut soal aktifitas tersebut," katanya.

Gaspar melanjutkan saat mengetahui akan diadakan pasar malam di Kecamatan Nangaroro, dirinya mendorong  masyarakat sekitar untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi di tempat tersebut, berupa usaha kuliner.

"Yang saya dorong adalah usaha kuliner bukan perjudian. Saya harap dengan kegiatan tersebut masyarakat dapat meningkatkan perekonomian dengan menjual hasil laut, pertanian, produksi rumah tangga, dan lain sebagainya. Bukan terlibat perjudian," katanya. (X-15)

 

BERITA TERKAIT