07 March 2020, 15:05 WIB

Thriller Drama Rumah Tangga Bertempelan Sains


Galih Agus Pradana | Weekend

Apa yang tak terlihat rupanya dapat melukai seseorang. Kiranya seperti itulah keyakinan Cecilia Kass (Elisabeth Moss) dalam film 'The Invisible Man'. Film yang dibintangi oleh 'Artis Terbaik Drama Televisi' ajang 'Golden Globe Awards 2018' ini bercerita tentang seorang perempuan yang berusaha lari dari suaminya, Adrian.

Adrian (Oliver Jackson-Cohen) ialah seorang fisikawan optik cum psikopat yang sangat membatasi kehidupan Kass. Pada suatu malam, Kass berhasil melarikan diri dari rumah berkat bantuan saudaranya Emily (Harriet Dyer), dan teman masa kecilnya James (Aldis Hodge) bersama putrinya yang masih remaja Sydney (Strom Reid). Namun, pelarian itu ternyata tidak berhasil membuat Kass lepas dari 'cengkeraman'. Kass masih dikejar-kejar, sekaligus diteror Adrian yang berhasil membuat baju tembus pandang.

Pada kesempatan ini, Moss sebagai aktor utama boleh dibilang cukup berhasil dalam membangun karakter Kass. Paras dan karakternya sungguh menunjukan sosok wanita yang cerdas dan kuat, sekalipun dilanda trauma. Bagaimana ia membangun persona perempuan yang selalu cemas, paranoid, dan takut juga cukup terlihat, yang mana hal itu kemudian turut mempertegas bagaimana pandangan karakter tersebut terhadap diri sendirinya sendiri dan dunia luar.

Singkat kata, pada kesempatan ini, Moss berhasil membangun keberanian dan ketagguhan seorang perempuan lewat karakter Kass, yang hampir separuh hidupnya diselimuti subordinasi dan kekerasan. Sosok Adrian yang sedari awal tampak 'dominan' dan 'cerdik', nyatanya tidak lebih dari seorang pria mabuk 'intelektual', 'kekuatan', dan 'maskulinitas (kejantanan)'.

Jason Blum dan Kylie Du Fresne sebagai produser, serta Whannel Leigh sebagai sutradara rasanya juga patut diapresiasi atas kerja keras mereka dalam film ini. Mereka cukup jeli dan pandai karena dapat mengemas isu 'domestik' dengan sangat menarik lewat sebuah film bergenre 'techno thriller'. Aroma maskulin yang pada mulanya sudah tercium dari judul yaitu 'The Invisible Man', kemudian segera luntur ketika melihat perspektif dan perjuangan seorang wanita yang pada kesempatan ini diwakili oleh karakter Kass.

Pemilihan judul ini sebenarnta juga boleh dibilang sangat kreatif. Sebab, Leigh, Jason, maupun Kylie dapat menghasilkan 'twist' dari judul, atau boleh dibilang bahwa twist film ini, sudah terjadi bahkan sejak sebelum diputar.

Originalitasnya sungguh terasa. Sekalipun isu yang dibawa bukanlah persoalan yang hanya terjadi hari ini saja, tetapi tim sepertinya telah berhasil mengajak audien untuk bertamasya melalui semantik bahasa, yang pada akhir cerita terwakili dengan sosok Kass.

Bagaimana kru film membangun emosi atau suasana tentu tidak perlu diragukan. Sebab ia film thriller, maka dari itu pula atmosfernya suguh beragam, mulai dari tegang, damai, hingga bahagia. Namun, semua itu menjadi semakin terasa dan terlihat dari kerja keras tim produksi, baik yang berurusan dengan sinematorgrafi, efek visual (VFX), efek suara (SFX), musik, desain, hingga penata rambut, dan busana.

Sinematografer Stefan Duscio dalam film ini menunjukan kematangannya  dalam menangkap --arahan dari Leigh-- cerita. Sorotan kameranya bergerak seiring dengan 'ambience' yang dibutuhkan sang sutradara. Momen yang dihasilkan kemudian terasa beranjak dari berbagai tempat, baik yang terasa formal dan kaku, hingga yang menuntut peforma tubuh dan gerak protagonisnya.

Duscio dalam menggambil gambar juga punya pertimbangan artistik yang cukup menarik. Kadang kala, suasana yang keluar dari layar bioskop bisa tampak indah, namun juga dapat tampak muram. Adegan pertama film yang sebenarnya cukup tegang (karena berhubungan pelarian Kass), pada saat yang sama juga cukup membuai mata karena dibalut dengan lanskap indah di pinggir pantai.

Sebaliknya, suasana yang cukup tegang juga dapat merangsang rasa kagum para penonton. Hal itu terlihat pada saat Kass diburu Adrian yang mewujud tapak kaki (footprint) di atas sprei, atau saat Adrian hendak mencium Kass dari belakang namun hanya berwujud uap yang keluar dari mulut, di tengah-tengah cuaca yang cukup dingin.

Suasana demikian sungguh terasa sangat hidup karena 'scoring' yang dilakukan Benjamin Wallfisch juga cukup menarik. Tak seperti thriller pada umumnya, kali ini suara-suara yang dihasilkan sang komposer terasa cukup minimalis, tidak 'lebay', dan yang lebih penting tak terkesan memerintahkan penonton 'kapan harus takut'.

Pada kesempatan ini, Benjamin justru tampak lebih 'mengeksploitasi diam' atau memanfaatkan 'keheningan sebagai irama'. Suara yang keluar, selain dawai orkestranya, hanyalah efek-efek sederhana seperti engrik jangkrik, gema, atau hembusan angin di malam hari. Beberapa yang terdengar bombastis, barang tentu hanya dari suara senapan, tubuh yang terhempas ke lantai atau dinding, maupun kaleng makanan kucing yang tertendang kaki Kass.

Jenis-jenis suara tersebut, sepanjang film kemudian terasa lebih banyak memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan adegan terlebih kehadiran setiap karakter. Gesekan senar selo atau notasi piano, sekalipun dominan dalam film ini hanya terdengar untuk mempertegas sosok Kass, yang masih mampu melawan, melewati rintangan, hingga akhirnya menang.

Namun begitu, yang tak kalah menarik, pada kesempatan ini lagu musisi fenomenal dari Tanah Air, Rich Brian juga turut diperdengarkan. Lagu berjudul 'Kids' yang menjadi bagian dari album 'The Sailor (2019)' itu terngiang dalam salah satu adegan ketika Kass memutarnya melalui laptop di rumah James dan Sydney.

The Invisible Man sendiri mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak Rabu (26/2). (M-2)

BERITA TERKAIT