06 March 2020, 20:05 WIB

Kemendikbud: Masih Banyak Peninggalan Sejarah Indonesia di Eropa


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

KERIS Pangeran Diponegoro akhirnya dikembalikan oleh Belanda pada Indonesia. Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengungkapkan, jumlah peninggalan sejarah Indonesia yang berada di luar negeri, terutama di Eropa sebenarnya masih sangat banyak.

"Untuk waktu yang cukup lama orang Eropa, Belanda, Inggris ada di sini. Dan selama keberadaan mereka di sini cukup banyak barang yang dikumpulkan dan kemudian dibawa ke sana. Tapi jumlah persisnya saya tidak bisa sebutkan," kata Hilmar saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (6/3).

Hilmar mengatakan, jenis peninggalan sejarah Indonesia yang berada di luar negeri pun ada bermacam-macam mulai dari arca, benda seni, lontar, naskah-naskah, senjata seperti keris, tombak, dan peralatan sehari-hari.

Baca juga: Keris Pangeran Diponegoro Dikembalikan ke Indonesia

Dia menjelaskan, pengembalian benda bersejarah dari luar negeri ke Tanah Air biasanya sudah melalui persetujuan dari kedua negara. Untuk saat ini, di Eropa memang sedang meneliti asal-usul koleksi-koleksi di museum mereka.

"Setelah diteliti cukup banyak yang kemudian diketahui diperoleh dengan cara-cara yang kurang pas lah, dengan kekerasan atau karena perang dan lainnya. Mereka sekarang sedang seleksi tentang latar belakang koleksi mereka dan sebagian pengurus museum di sana juga kritis. Jadi mereka lihat, masa ada latar belakang kayak gini, bukannya lebih tepat barang yang dulu kita peroleh dengan cara tidak pantas kembali ke negerinya?" ungkapnya.

Pihak Indonesia pun menyambut gembira inisiatif negara di Eropa yang ingin mengembalikan benda bersejarah tersebut. Tindakan ini sudah sesuai dengan kerangka hukum yang ada di Indonesia seperti Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

"Ada Undang-Undang Cagar Budaya, Undang-Undang Kemajuan Budaya, jadi kerangka hukum pun buat kita sudah mendukung ke arah sana. Jadi diskusi kita sudah jalan cukup panjang di Belanda, Inggris, di museum-museum di sana karena paling banyak di sana untuk memikirkan gimana langkah-langkah pengembaliannya," tandasnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT