06 March 2020, 18:49 WIB

Italia Liburkan Sekolah karena Korona, Orangtua Murid Mengeluh


Nur Aivanni | Internasional

PARA siswa, orang tua dan guru tengah berjuang atas keputusan pemerintah Italia yang menutup semua sekolah dan universitas di seluruh negeri hingga 15 Maret.

Hal itu dilakukan karena negara tersebut berjuang untuk menangani wabah virus korona terburuk di Eropa. Virus itu telah merenggut 148 nyawa di negara itu pada Kamis (5/3) malam, berdasarkan angka pemerintah.

Baca juga: India Rayakan Festival Holi Ditengah Kekhawatiran Virus Korona

Keputusan atas penutupan sektor pendidikan itu diakui Maurizio Bufalini, 45, yang bekerja di pengadilan di Ferrara, sebagai hal yang tidak mudah.

"Saya dan istri saya harus menggunakan liburan kami dan cuti untuk tinggal di rumah bersama putri kecil kami. Saya harap pemerintah akan segera melakukan intervensi, jika tidak ini akan menjadi bencana," katanya, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (5/3).

Sekolah-sekolah sudah ditutup di wilayah utara yang terkena dampak virus korona paling parah, termasuk Lombardy, Veneto, Piedmont dan Friuli Venezia Giulia, serta bagian dari Liguria dan Marche. Namun, pada Kamis penutupan dilakukan di seluruh negeri dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus korona.

"Saya punya dua anak dan si kecil ikut taman kanak-kanak swasta yang tidak akan mengembalikan biaya bulanannya," kata Rosamaria Battaglia, 33, yang bekerja di sebuah badan kelautan di Palermo.

Pekan ini, katanya, ia akan mempunyai seorang pengasuh anak. Namun, ia berharap pekan depan ada solusi yang lebih ekonomis sebagai jalan keluarnya. "Menjadi seorang ibu dan seorang pekerja di Italia selama wabah Covid-19 benar-benar sulit," akunya.

Pemerintah telah mengumumkan akan menyediakan € 7,5 miliar untuk membantu para keluarga dan perusahaan. Selain itu, pemerintah juga sedang mengevaluasi kemungkinan memberikan dukungan kepada para keluarga, termasuk penggantian biaya pengasuhan anak dan cuti di luar tanggungan dari tempat kerja.

Beberapa ahli dan ilmuwan tidak setuju dengan keputusan untuk menutup semua sekolah. Sumber resmi di Komite Ilmiah Italia mengatakan kepada La Stampa bahwa keputusan pemerintah dievaluasi karena tidak memiliki bukti ilmiah.

Sementara itu, pemerintah mengatakan pihaknya mendapat dukungan dari komunitas ilmiah dan memiliki bukti untuk membuktikannya. Banyak guru dan dosen terus mengajar siswanya secara online.

Hanya saja, keputusan penutupan sekolah tidak hanya berdampak kepada orang tua, tetapi juga siswa, terutama mahasiswa yang akan lulus pada bulan Maret.

Roberta Bivona, 27, seorang mahasiswa sastra di University of Palermo, dijadwalkan untuk bertemu panel profesor untuk membahas skripsinya pada 11 Maret.

Baca juga: Penasehat Menteri Luar Negeri Iran Meninggal karena Covid-19

"Awalnya mereka memberi tahu saya bahwa sidang skripsi saya akan berlangsung tanpa peninjau," kata Bivona.

"Sekarang semuanya telah berubah dengan ditutupnya universitas. Kemarin kami menerima email dari rektor universitas, yang sedang mempertimbangkan kemungkinan sidang skripsi melalui Skype," ucapnya. (The Guardian/OL-6)

BERITA TERKAIT