06 March 2020, 15:59 WIB

Pascabentrok Tewaskan 6 Orang, Keamanan Desa Sandosi Terkendali


Henri Siagian | Nusantara

KAPOLRES Flores Timur AKB Deny Abraham mengemukakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Desa Sandosi, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sudah terkendali setelah konflik antarwarga pada Kamis (5/3) pagi.

"Sampai saat ini situasi kamtibmas di Sandosi aman terkendali," katanya seperti dikutip dari Antara, Jumat (6/3).

Deny mengaku sedang berada di Desa Sandosi bersama-sama dengan kepala desa setempat untuk melakukan upaya pengendalian situasi.

Dia mengatakan, selain kepala desa, pihaknya melakukan pendekatan dengan unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) dan tokoh-tokoh adat setempat untuk bersama-sama menjaga situasi kamtibmas agar bisa kondusif.

Deny mengatakan telah mengerahkan personel dari Polres Flores Timur dan jajaran Polsek sebanyak 1 SSK (Satuan Setingkat Kompi) berjumlah sekitar 100 orang.

Baca juga: Berselisih Pencabutan Pohon Kelapa, Enam Warga Flores Timur Tewas

Selain itu personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) juga dikirim dari daerah lain di antaranya Kabupaten Lembata sebanyak 1 SST (Satuan Setingkat Peleton) berjumlah 30 orang, Kabupaten Sikka 1 SST, Dalmas Polda NTT 1 SST, serta personel Brimob dari Sikka 1 SKK.

Bantuan pengamanan situasi juga dilakukan personel TNI dari Komando Distrik Militer (Kodim) setempat sebanyak 1 SST.

Bentrok antarwarga di Desa Sandosi pecah pada Kamis (5/3) pagi di wilayah perkebunan Wulen Wata dan menewaskan sebanyak enam orang.

Baca juga: Brimob Maumere & Lembata Ikut Bantu Jaga Keamanan di Desa Sandosi

Menurut warga, kejadian bermula saat seorang warga, Hendrik, mendatangi kebun dan hendak mencabut kelapa yang ditanam warga lainnya, Moses.

Keluarga Hendrik beralasan, kebun itu adalah miliknya dan penanaman kelapa itu sebagai penyerobotan.

Mendengar aksi pencabutan pohon itu, keluarga Moses mendatangi lokasi hingga terjadi perkelahian antarwarga. Moses dan tiga kerabatnya tewas. Adapun dua korban lainnya adalah dari keluarga Hendrik. Semua korban berprofesi sebagai petani. (X-15)


 

BERITA TERKAIT