06 March 2020, 15:15 WIB

Badan POM Dampingi UMKM Bali


OL/H-3 | Humaniora

PRODUK obat dan makanan lokal usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sulit bersaing karena terkendala perizinan, bahan baku, serta sumber daya manusia. Karenanya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menggelar pendampingan UMKM melalui percepatan perizinan dan bimbingan teknis lain.

Hal itu disampaikan Kepala Badan POM Penny K Lukito ketika ditemui di Kuta, Bali, kemarin.

"Badan POM itu tugasnya tak hanya mengawasi, menindak, menyita, dan sebagainya. Namun, juga melakukan bimbingan seperti yang dilakukan di Bali pada 5-6 Maret," jelas Penny.

"Bali merupakan salah satu provinsi penggiat UMKM yang berhasil menjadi sektor industri andalan yang tumbuh pesat. Contohnya, produk kosmetik UMKM di Bali telah banyak yang diekspor ke mancanegara. Pendampingan ini merupakan upaya Badan POM untuk mendorong pertumbuhan industri UMKM," tambahnya.

Terkait dengan bahan baku produk obat kimia, Penny membenarkan bahwa sebanyak 60% berasal dari Tiongkok, sisanya dari India, serta hanya sedikit yang berasal dari dalam negeri. "Dengan adanya virus korona, seluruh bahan baku dari Tiongkok disetop. Inilah kesempatan bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujarnya.

Menurutnya, kemandirian bahan baku obat kimia masih menjadi tantangan besar. Ia mengatakan Indonesia harus berinovasi mendatangkan bahan baku obat kimia secara kontinu.

Kepala Badan POM juga menyerahkan sertifikat cara pembuatan kosmetik yang baik (CPKB), cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) bertahap, dan nomor izin edar (NIE) kepada 22 pelaku usaha di wilayah Bali.

Salah satu penerima izin edar ialah usaha arak Bali bernama Barak milik Nengah Pasek. "Hati saya lega sekali. Sekarang sudah dapat dukungan," ujar Nengah Pasek setelah menerima NIE.

Penny mengatakan butuh proses panjang untuk mengeluarkan sertifikat izin edar pada produk tersebut. (OL/H-3)

BERITA TERKAIT