06 March 2020, 14:36 WIB

Langkah Jateng Atasi Dampak Virus Korona


Lilik Darmawan | Nusantara

Mewabahnya COVID-19 atau virus korona diakui berdampak pada sektor pariwisata di Jawa Tengah (Jateng). Sebagai contoh, Kapal Pesiar Viking Sun yang tidak boleh bersandar di Kota Semarang. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng mendorong wisata lokal dengan terget pengunjung domestik.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku telah melakukan kajian dampak virus korona terhadap perekonomian di Jateng, misalnya untuk sektor wisata dan perdagangan. "Kemarin saja, ada Kapal Pesiar Viking Sun yang batal berlabuh di Semarang. Itu melalui diskusi yang sangat panjang. Tentu saja, sektor pariwisata akan terkena dampaknya juga. Namun, semuanya harus diantisipasi," kata Ganjar saat berkunjung ke Purwokerto pada Jumat (6/3).

Akibat sektor pariwisata yang terkena dampak, imbuh Ganjar, maka pihaknya menggerakkan pariwisata lokal serta pengunjung domestik. "Dengan menurunnya sektor wisata, maka yang dilakukan adalah dengan mengembangkan pariwisata lokal," ujarnya.

Baca juga: 1.020 Orang Sembuh Dari Korona, Beijing Terima Kasih Pada RI

Sektor ekonomi lainnya seperti ekspor dan impor juga pasti ada pengaruhnya. "Sebab negara terbesar tujuan ekspor Jateng adalah Amerika Serikat, kemudian Jepang dan Tiongkok. Nah, untuk ekspor ke Tiongkok itu pasti terpengaruh. Tidak hanya ekspor ke Tiongkok, impor Jateng dari Tiongkok juga pasti akan terganggu. Contoh tekstil di Jateng itu, kapasnya impor dari Tiongkok," ujarnya.

Oleh karena itu, Pemprov Jateng telah melakukan antisipasi dengan menyiapkan solusi ekspor atau impor ke negara lain. Selain itu, upaya mencari pengganti barang lain atau substitusi terus diupayakan.

"Sebagai contoh kapas. Kita sudah punya penggantinya, yakni rayon. Pak Presiden juga sudah memerintahkan itu. Jadi, sudah kita siapkan semuanya, dan semua sudah dalam kontrol, sesuai fungsi masing-masing," tambahnya.

Substitusi bawang putih, yang merupakan komoditas impor dari Tiongkok juga diupayakan. "Ketersediaan bawang putih dari lokal hanya mampu memasok 5%, selebihnya adalah impor dari Tiongkok. Oleh karena itu, saat ini sebetulnya memonetum untuk menanam bawang putih sebanyak-banyaknya, biar kita berdaulat," tandas Ganjar. (OL-14)

BERITA TERKAIT