06 March 2020, 10:49 WIB

Disdikbud Cianjur Larang Siswa Karya Wisata


Benny Bastiandy | Nusantara

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, melarang sekolah melaksanakan karya wisata siswa ke luar daerah. Kebijakan itu sebagai bentuk antisipasi penyebaran virus korona. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, Oting Zaenal Muttaqien, mengaku telah menyiapkan surat imbauan ke setiap sekolah untuk tidak melaksanakan dulu karya wisata mengingat saat ini terjadi fenomena virus korona. Sebab, dikhawatirkan bisa menimbulkan dampak-dampak yang tak diinginkan.

"Sedang kami persiapkan surat imbauannya. Ini dalam rangka antisipasi," kata Oting kepada Media Indonesia, Jumat (6/3).

Oting memandang perlu adanya larangan karya wisata tersebut karena dalam waktu dekat akan memasuki masa liburan sekolah. Biasanya, saat liburan tak sedikit sekolah yang mengagendakan karya wisata ke tempat-tempat yang banyak dikunjungi wisatawan.

"Kami khawatir saja karena tempat-tempat yang nanti dituju siswa dari sekolah-sekolah di Cianjur pasti banyak juga dikunjungi wisatawan. Bahkan tak menutup kemungkinan ada wisatawan luar negeri dari negara-negara yang sudah terjangkit virus korona. Imbauan ini kami berlakukan dari mulai TK, SD, dan SMP," tutur Oting.

Kalaupun mau berkarya wisata, Oting menyarankan lebih baik mengunjungi tempat-tempat wisata di seputaran Cianjur. Menurut Oting, tak sedikit tempat wisata di Kabupaten Cianjur mengandung unsur-unsur edukasi bagi para pelajar.

"Lebih bagus lagi karya wisata diganti dengan hal-hal yang lebih positif," jelasnya.

Sementara itu, Kapolres Cianjur Ajun Komisaris Besar Juang Andi Priyanto mengaku ikut mengawasi peredaran masker menyusul informasi mulai sulitnya warga mendapatkan barang tersebut. Tapi Juang memastikan sejauh ini di wilayah hukum Polres Cianjur kondisinya masih aman.

"Kalau ada yang menimbun masker hanya sekadar mencari keuntungan, sangat tidak etis," ujar Juang.

baca juga: Cegah Korona, Pemkot Surabaya Tolak Kapal MV Viking Sun Singgah

Juang mengatakan cukup sulit mendeteksi indikasi penimbunan masker. Beda kasusnya dengan praktik penimbunan sembako.

"Bisa jadi sulitnya mendapat masker karena yang menjualnya juga gak terlalu banyak. Kagetnya pas ada potensi bahaya korona. Kita akan ikut mengupayakan agar apotek-apotek bisa menjual masker seperti biasa," pungkasnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT