06 March 2020, 10:20 WIB

Dai Harus Tebar Kesejukan


Thalatie Yani | Politik dan Hukum

MENTERI Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengingatkan para dai atau penceramah agar memberikan kesejukan bagi masyarakat dan tidak menimbulkan ketegangan serta menakut-nakuti.

"(Dai), kalau berceramah, jangan menimbulkan ketegangan dan nakut-nakuti. TV itu yang nonton banyak, lo. Bukan hanya orang yang standar otak dan pengalamannya sama. Jadi, kadang kalau menakut-nakuti, itu menimbulkan ketegangan," tegas Mahfud saat menjadi pembicara dalam acara Standardisasi Kompetensi Dai, di Gedung MUI, Jakarta, kemarin.

Ia menyarankan para dai agar berceramah yang mendidik dan dapat disertai dengan humor. "Humor boleh asal mendidik dan tidak jorok," ucapnya.

Menurut dia, dai yang ceramahnya berisi ketakutan akan membuat pende-ngar menjadi terpengaruh, khususnya pendengar yang pemahamannya rendah tentang agama. "Itulah yang kemudian menimbulkan ekstremisme, radikalisme, ditakut-takuti tanpa dasar yang kuat."

Mahfud mencontohkan kasus mewa-bahnya virus korona atau covid-19 di sejumlah negara, termasuk Indonesia, menimbulkan ketakutan masyarakat. Namun, pemerintah menyerukan pembicaraan tentang virus korona jangan menimbulkan ketegangan. "Coba (para dai) buat tenang masyarakat sehingga tidak terjadi rush. Pemerintah mengharapkan korona diumumkan terbuka, tetapi ja-ngan nakut-nakuti," tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan tugas ulama ialah menjelaskan relasi antara agama dan negara sudah final. "Sebenarnya relasi agama dan negara itu final. Memang iya, sudah final. Kita yang ada di sini sudah menganggap final. Tetapi yang kita lihat, masih ada gerakan-gerakan yang menganggap tidak final."

Lintas agama

Indonesia akan menjadi tuan rumah dalam pertemuan para tokoh agama. Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan dalam waktu dekat pemimpin tertinggi gereja Katolik Paus Fransiskus akan berkunjung ke Indonesia. Untuk memanfaatkan momentum tersebut, nantinya akan digelar pertemuan dalam membangun moderasi umat beragama.

"Indonesia ingin menginisiasi untuk mengadakan pertemuan tokoh-tokoh agama di dunia, termasuk Paus akan hadir," jelas Wapres.

Ia pun menyampaikan keprihatinan atas terjadinya konflik antarumat ber-agama di India. Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, tutur Amin, sudah memberikan pernyataan bahwa pemerintah sebagai anggota Dewan Keamanan PBB menginginkan agar India ikut membangun toleransi, moderasi dalam beragama.

Menurutnya, moderasi beragama menjadi masalah yang dihadapi bukan saja oleh agama Islam, melainkan juga menjadi tanggung jawab semua penganut agama. Karena itu, dialog antarpemimpin dan tokoh agama selalu dibangun.

Pemimpin tertinggi gereja Katolik dunia sekaligus kepala negara Vatikan, Paus Fransiskus, dijadwalkan akan mengunjungi Indonesia awal September 2020. Salah satu agenda penting selama berada di Indonesia ialah bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Paus juga akan bertemu dengan para tokoh lintas agama. Dari Indonesia, Paus melanjutkan lawatannya ke Timor Leste dan Papua Nugini. (Ant/P-3)

BERITA TERKAIT