06 March 2020, 05:50 WIB

Kenduri Buku Menumbuhkan Tradisi Literasi


Teuku Kemal Fasya Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe. | Opini

PADA 3 Maret 2020, Sekolah Sukma Bangsa (SSB) Lhokseumawe mengadakan kegiatan Kenduri Buku. Pada acara itu saya menjadi salah satu pembedah empat buku karya para guru. Pertama, kumpulan tulisan, cerpen, dan puisi Rawi karya Zubir Agam. Kedua, antologi kisah perjalanan Belajar Tanpa Batas oleh Gunawan. Ketiga, kumpulan esai tematik pendidikan Suara sang Guru oleh Azwar Anaz. Keempat, buku ajar Praktikum Berbasis Inkuiri: Kumpulan Racikan Praktikum Kimia karya Sarlivanti.

Apa pun alasannya, upaya para guru menerbitkan karya menjadi buku ber-ISBN patut diberi salut. Proses ini jauh lebih baik ketimbang hanya berbicara. Itu karena berbicara cepat melenyap di udara, sedangkan menulis gagasan akan berkekalan lebih lama (vox audita perit, littera scripta manet).

Pilihan menerbitkan buku seperti itu juga tidak akan terjadi jika sekolah tidak mendukung. SSB Lhokseumawe memang menjadi sekolah 'berbeda', salah satunya penganjuran pada sensitif budaya literasi. Tak mengherankan jika sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit di Aceh.

Berceramah versus menulis

Tentu ada perbedaan antara peran klasik guru berceramah dan peran menulis. Guru menulis hingga memublikasi tulisannya hampir bisa dikatakan langka, apalagi untuk daerah seperti Aceh.

Berceramah sudah pasti melakukan repetisi untuk 'mencairkan' ide hingga taraf sederhana. Adapun menulis, seperti dikatakan filsuf Perancis, Jacques Derrida, pasti melakukan proses diffrance: menunda (differ) dan membedakan (difference).

'Menunda' maksudnya proses menulis tidak 'seterus terang' berkata-kata. Kata-kata dalam tulisan sengaja ditunda sembari membayangkan siapa pembaca tulisan. Setiap kata, frasa, kalimat, dan paragraf pasti mengandung ide yang harus sampai ke pikiran pembaca. Semakin reflektif kata dan kalimat yang kita pilihkan, semakin dalam dan paradigmatis tulisan itu.

'Membedakan' maksudnya menulis memilih jalan berbeda dari berbicara. Menulis ialah berkata-kata dengan tulisan. Tulisan memerlukan kaidah-kaidah strukturalisme seperti keterampilan gramatika, kerapian sintagmatik (membuat dan menyusun kalimat yang logis dan runtut), penguasaan akan diksi dan wacana hingga pergulatan pada dimensi sastrawi. Itu karena sesungguhnya tulisan yang kita hadirkan bukan saja harus baik secara ide, melainkan juga estetik sebagai teks.

Mulailah dengan artikel

Apa maksud memulai dengan artikel? Seperti makna genealogisnya dari bahasa Yunani Kuno, articulus, yang berarti inti atau titik (poin), bagian (part), lengan (limb), jari (finger), menulis harus memiliki poin yang disampaikan dan kemudian dikembangkan secara naratif.

Hal lain yang dimaksud mulai dengan artikel ialah sebelum menulis tulisan panjang dan tebal, kuasai dulu menulis artikel di media massa. Dengan menulis artikel di media massa, berarti masuk dalam pengujian pertama, yaitu tulisan itu layak di mata redaktur. Pilihlah media massa yang kredibel untuk menguji 'kesaktian' tulisan kita.

Saat ini media massa mainstream menerima artikel di ruang opini/pendapat/gagasan berkisar 650-850 kata. Dulu sebelum 2000-an, artikel yang terbit di media massa bisa berkisar 1000-1300 kata. Revolusi menerpa media cetak ke arah digital menyebabkan tulisan terbit saat ini tidak lebih 800 kata.

Apakah langsung menulis buku tidak boleh? Boleh. Namun, latihan dalam menyusun ide harus ada ruang tinjunya agar kuat otot-otot kata dan kalimat dan itu mungkin di media massa. Menulis di media massa mengajarkan peran untuk memilih hal yang bermanfaat bagi publik dan mengambil strategi agar terbaca luas.

Kadang ada satu artikel yang kita baca dan terkenang sangat lama. Namun, seringkali penerbitan buku hadir dengan cepat dan cepat pula dilupakan. Padahal secara dokumentatif, buku jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kertas koran yang semakin lama kualitasnya semakin renta. Menulis artikel berarti memilih kombinasi kedalaman data, kata, analisis, dan sastra secara bersamaan sehingga ketika telah lulus sebagai penulis kolom yang baik akan memiliki 'sertifikat' sebagai penulis buku yang baik.

Beberapa kritik

Keempat buku itu terlihat ditulis dengan deadline, yaitu mengejar kehadiran Presiden Jokowi di Aceh pada acara Kenduri Kebangsaan pada 22 Februari lalu sehingga ada beberapa proses yang luput. Pertama, semua buku yang baik harus memiliki fungsi editing dan itu dilakukan oleh editor.

Pada penulisan buku ilmiah di kampus, jika buku tidak memiliki editor, akan dinilai angka kredit lebih rendah ketimbang buku bereditor. Bahkan, beberapa buku mempersiapkan lagi proofreader atau penyelaras akhir.

Fungsi proofreader ialah 'menghabisi' setiap kesalahan ketik, problem kapital, cetak miring, dll yang membuat buku terlihat amatiran. Ketika menulis, kadang kita tidak sadar melakukan repetisi maka editorlah yang membersihkannya.

Kedua, sebelum sampai pada editor, penulis harus menjadi editor pertama bagi tulisannya sendiri. Kebiasaan yang saya lakukan ketika menulis ialah melakukan 'hukum baca ulang minimal empat kali!', yaitu melakukan revisi dan koreksi simultan atas teks yang telah diproduksi. Proses ini termasuk memberikan sentuhan estetika hingga memadatkan tulisan sesuai keperluan media.

Ketiga, penerbitan buku-buku itu juga luput menempatkan daftar pustaka. Untuk sebuah buku ilmiah, penempatan daftar pustaka bersifat 'wajib' karena dalam teks yang ditulis, ada banyak kutipan pengarang yang harus masuk ke daftar pustaka. Jangan juga lupakan indeks yang berguna bagi pembaca mencari kata kunci di dalam buku.

Akhirulkalam, kerja baik guru menulis ini jangan berhenti. Produk tulisan itu hanyalah titik berangkat (the point of departure) dan bukan titik ketibaan (the point of arrival) sehingga semangat dan daya literasi harus lebih baik lagi pada penerbitan selanjutnya. Di antara semua kenduri, kenduri bukulah yang paling intelektual. Maka itu, guru menulis itu keren!

BERITA TERKAIT