06 March 2020, 04:50 WIB

Ditopang Digitalisasi, Laba BTPN Syariah Capai Rp1,4 T


(Put/E-3) | Ekonomi

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) mampu menunjukkan kinerja gemilang sepanjang 2019 dengan mencatatkan laba bersih Rp1,40 triliun. Laba tersebut naik sebesar 45% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya atau year on year (yoy), yakni Rp965,31 miliar.

Kenaikan laba bersih ini berjalan seiring dengan pertumbuhan nilai pembiayaan sepanjang tahun lalu yang mencapai 23,7% secara yoy, atau naik menjadi Rp9 triliun dari Rp7,3 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Pencapaian pertumbuhan pembiayaan kredit yang sehat di BTPN Syariah ditopang dengan rendahnya angka non performance financing (NPF) yang berada di posisi 1,36%.

Direktur Kepatuhan BTPN Syariah, Arief Ismail, menyebut pertumbuhan positif ini turut ditunjang digitalisasi di setiap lini proses yang dimulai sejak 2018, baik di kantor pusat maupun di lapangan.

Selain fokus menggarap segmen prasejahtera produktif, BTPN Syariah juga telah merancang sistem atau proses automasi yang mudah untuk mendukung produktivitas para tim di lapangan dalam melayani nasabah. Selain itu, digitalisasi juga mampu mengoptimalkan fungsi jaringan kantor.

Dengan mengoptimalkan digitalisasi, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional tercatat turun menjadi 58,1%. Lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 62,4%.

"Digitalisasi menjadi upaya bersama untuk mencapai efisiensi. Pada 2019 seluruh tim di lapangan telah menggunakan aplikasi untuk melayani nasabah prasejahtera produktif. Selain itu, tim juga dilengkapi dengan aplikasi pelatihan internal dan aplikasi layanan pendukung lainnya. Dengan dukungan digitalisasi tersebut, proses layanan kepada nasabah menjadi lebih cepat dan tepat," tutur Arief, kemarin.

Tercapainya pertumbuhan pembiayaan bank yang positif sepanjang 2019 juga didukung tingkat permodalan dan likuiditas yang memadai dengan rasio kecukupan modal sebesar 44,7% atau jauh di atas ketentuan minimal yang ditetapkan regulator. Sementara itu, financing to deposit ratio (FDR) juga berada di posisi sehat sebesar 95,3%.

Adapun dana pihak ketiga juga tumbuh 24,1% mencapai Rp9,4 triliun jika dibandingkan dengan posisi Desember 2018 sebesar Rp7,6 triliun. (Put/E-3)

BERITA TERKAIT