05 March 2020, 20:47 WIB

Pengobatan Kanker dengan Terapi Sel Perlu Melibatkan Psikolog


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

DATA riset kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia mencatat prevalensi kanker dan tumor di Indonesia mengalami peningkatan dari 1,4 per 1000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk di tahun 2018. Bahkan WHO memprediksikan jumlah kematian akibat kanker di seluruh dunia meningkat menjadi lebih dari 13,1 Juta manusia per tahun pada 2030.

Anggota tim psikolog di Klinik Hayandra, Cecilia Sagita mengatakan dalam proses menjalani perawatan medis untuk kanker, pasien maupun keluarganya memerlukan pendampingan psikolog yang intensif.

"Banyak pasien merasa divonis mengenai akhir hidupnya, saat didiagnosis mengidap kanker,” kata Cecilia, di kawasan Menteng Jakarta Pusat, Kamis (5/3).

Dia menjelaskan, pendekatan bio-psiko-sosial menjadi dasar untuk melihat manusia secara utuh (holistik) dalam proses membantu penyintas kanker untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Oleh karena itu diperlukan konseling dan psikoterapi sebagai langkah intervensi bagi pasien kanker untuk memberikan ketenangan dan membantunya menjalani perawatan medis dengan semangat positif.

"Keluarga juga mengambil peran penting untuk memberi dukungan dan perawatan pada pasien kanker," sebutnya.

Psikolog Cecilia menambahkan sifat keluarga yang protektif justru dapat membuat tekanan pada kondisi pasien. Kerap kali keluarga justru bertindak sebagai ‘pengawas’ yang membatasi keinginan dan perilaku pasien yang dapat menjadi pemicu konflik antara pasien dan keluarganya.

“Psikolog dapat memberikan psikoedukasi dan konseling kepada anggota keluarga sehingga tercipta suasana kondusif dan nyaman untuk pasien yang berdampak positif pada kondisi medisnya,” terang Cecilia.

Penanganan nyeri dengan terapi sel

Pada penderita kanker, rasa nyeri merupakan hal yang paling menimbulkan penderitaan, baik untuk yang sedang menjalani terapi maupun pada pasien paliatif pada kanker stadium Ianjut.

Kepala tim penanganan nyeri di klinik Hayandra, I Putu Willy Adi Satria menyebut kemajuan di bidang medis memungklnkan penanganan nyeri pada penderlta kanker tidak hanya meliputi obat-obatan namun juga dapat menggunakan terapi yang lebih canggih yang bertujuan untuk melakukan blok ataupun ablasi saraf yang membawa rasa nyeri

"Nyeri kanker atau cancer pain, bila diatasi dengan baik akan meningkatkan kualitas hidup penderita. ltulah sebabnya sangatlah penting untuk melibatkan tim penanganan nyeri dalam terapi komprehensif bagi penderita kanker," sebutnya

Pada nyeri menahun lain yang tidak disebabkan oleh kanker, terapi regeneratif dengan menggunakan PIatelet-Rich Plasma atau PRP saat ini mendapatkan perhatian di kalangan medis.

Kata dia, PRP, yang selama ini dikenal luas di bidang estetik dan anti aging, bHa diolah secara khusus, memiliki kemampuan untuk memperbaiki jaringan yang rusak akibat proses degeneratif maupun cedera menahun.

"Penggunaan PRP pada intervensi nyeri yang dikombinasikan dengan Fusioterapi diharapkan dapat meminimalisir penggunaan obat-obatan kortikosteroid atau penghilang rasa nyeri lain," paparnya.

Doktor bidang biomedik yang juga merupakan ketua Klinik Hayandra, dr. Karina menjelaskan terapi pendukung pada kanker yaitu Immune Cell Therapy (ICT) merupakan terapi yang berasal dari darah pasien sendiri, yang didapat dari hasil pengaktifan dan perbanyakan sel T, sel Natural Killer (NK), dan sel NKT dalam proses selama 2 minggu.

"Namun ternyata terapi ICT juga mampu mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien," lanjutnya.

dr. Karina, menambahkan ICT yang mengandung sel T, sel NK, dan sel NKT, tidak hanya secara alamiah bertugas sebagai pembunuh kanker, namun juga berguna dalam mengurangi nyeri akibat kanker.

“Dari banyak penelitian di dunia, hal ini diduga merupakan efek penekanan radang secara menyeluruh, serta dikeluarkannya zat-zat yang dinamakan sitokin dan peptida opioid endogen, oleh sel-sel imun yang terkandung dalam ICT," pungkasnya. (Fer/OL-09)

BERITA TERKAIT