05 March 2020, 20:22 WIB

Berselisih Pencabutan Pohon Kelapa, Enam Warga Flores Timur Tewas


Alexander P Taum | Nusantara

ENAM orang warga Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, tewas mengenaskan akibat sengketa tanah di Kebun Wuluwata, Desa Sandosi, Kecamatan Witihama.

Sedikitnya, 100 aparat keamanan dari Mapolres Flotim dikerahkan menuju lokasi, Kamis (5/3), guna mengantisipasi terulangnya perkelahian antarwarga satu desa tersebut.

Baca juga: Komnas PA Pertanyakan Kasus Pengeroyokan Anak oleh ASN di Lembata

Menurut warga, kejadian bermula saat seorang warga, Hendrik, mendatangi kebun dan hendak mencabut kelapa yang ditanam warga lainnya, Moses.

Keluarga Hendrik beralasan, kebun itu adalah miliknya dan penanaman kelapa itu sebagai penyerobotan.

Baca juga: Bupati Manggarai Ajak Uskup Ruteng Buka Ruang Dialog

Mendengar aksi pencabutan pohon itu, keluarga Moses mendatangi lokasi hingga terjadi perkelahian antarwarga.

Kapores Flotim AKB Deni Abraham menjelaskan, perkelahian antarwarga satu desa itu terjadi antara keluarga Hendrik dan Moses. Bentrokan yang menewaskan enam orang itu terjadi secara spontan di Kebun Wuluwata.

Deni mengonfirmasi Moses dan tiga kerabatnya tewas. Adapun dua korban lainnya adalah dari keluarga Hendrik. Semua korban berprofesi sebagai petani.

Baca juga: Fokus Pilkada, Direktur Badan Otorita Labuan Bajo Mundur

Deni menjelaskan, masalah itu dipicu saling klaim masalah tanah adat antarkeluarga. Sengketa tanah telah dimediasi sejak 1980-an. Namun kedua keluarga itu saling klaim kepemilikan dan belum ada titik temu.

"Anggota kedua keluarga itu spontan bertemu di lokasi yang berjarak 10 hingga 15 km dari Desa Sandosi. Dua kubu kemudian terlibat adu mulut. Perkelahian menggunakan senjata tajampun tidak bisa terhindarkan," ujar Deni.

Deni mengaku telah mengerahkan pasukan dari Polsek, Polres, Dalmas, Buser, dan Brimob mengantisipasi kejadian susulan.

"Kita tetap menyelidiki kasus ini karena masih ada pelaku yang hidup. Karena suasana masih panas, saya suruh data pelaku yang kemungkinan masih hidup." (X-15)
 

BERITA TERKAIT