05 March 2020, 22:45 WIB

Serangan Rusia Tewaskan Warga Sipil


MI | Internasional

SERANGAN udara Rusia menewaskan sedikitnya 15 warga sipil, termasuk seorang anak, di benteng oposisi terakhir di Idlib, Suriah barat laut.

Pemantau perang Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang bermarkas di Inggris menyatakan serangan setelah tengah malam itu menargetkan area di mana warga Suriah yang terlantar berkumpul di luar kota Maaret Misrin di Provinsi Idlib.

Kelompok pemantau tersebut mengatakan mereka  mampu menentukan pesawat apa yang melakukan serangan berdasarkan pola penerbangan serta amunisi dan pesawat yang terlibat.

Seorang koresponden AFP melihat mayat beberapa korban yang dibungkus selimut tebal musim dingin di rumah sakit setempat.

Seorang penyelamat menggendong tubuh seorang bayi perempuan, mulutnya dipenuhi puing-puing abu-abu dan piyama merah mudanya dipenuhi debu.

Serangan tersebut menghancurkan peternakan unggas di mana keluarga terlantar pernah tinggal di sana. Lusinan ayam putih yang bertahan hidup diselamatkan di antara debu-debu ketika penyelamat mengoperasikan buldoser untuk menyisir puing-puing tersebut.

Observatorium mengatakan jumlah korban di Idlib tersebut kemungkinan akan bertambah karena banyak yang terluka berada dalam kondisi kritis.


Pengungsi

Pasukan rezim Suriah yang didukung Moskow sejak Desember melancarkan pertempuran mematikan melawan jihadis yang mendominasi wilayah Idlib, yang menyebabkan hampir satu juta orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, mengungsi dari rumah dan tempat berlindung mereka.

Bahkan sebelum serangan itu, Idlib adalah rumah bagi tiga juta orang, sekitar setengah dari mereka sudah mengungsi dari bagian lain negara yang dilanda perang.

Serangan itu sendiri terjadi ketika para pemimpin Rusia dan Turki bertemu di Moskow untuk membahas situasi di Idlib di mana Ankara mendukung beberapa kelompok pemberontak dan terlibat langsung dalam pertempuran dalam beberapa pekan terakhir.

Perang Suriah yang melibatkan banyak kelompok hingga kini telah menewaskan lebih dari 380.000 orang dan jutaan orang terlantar sejak dimulai pada 2011. (Nur/X-11)

BERITA TERKAIT