05 March 2020, 22:20 WIB

Virus dan Fenomena ‘Panic Buying’


MI | Internasional

BARANG-barang di toko serba ada habis terjual, mulai dari tisu toilet, pembersih tangan hingga masker bedah. Fenomena yang terjadi mulai dari Jepang, Prancis hingga Amerika Serikat itu disebabkan antara lain karena aksi warga yang panik dan memborong barang (panic buying) akibat wabah virus korona. Mereka mengabaikan imbauan agar bersikap tenang dalam menghadapi virus korona.

Hal tersebut didokumentasikan di media sosial di mana warga berebut ke toko-toko dan panik serta bingung ketika melihat rak-rak kosong dengan barang-barang yang mereka butuhkan.
Akibatnya, jaringan toko serba ada terbesar di Australia minggu ini mulai menjatah penjualan kertas toilet setelah polisi harus turun tangan karena terjadi perkelahian saat orang berebut.

Di Jepang, perdana menteri menggunakan Twitter untuk menenangkan kekhawatiran akan kekurangan kebutuhan nasional. Sementara foto-foto media sosial dari AS memperlihatkan rak-rak tempat tisu toilet kosong.

Psikolog mengatakan kekhawatiran berlebihan terhadap wabah virus korona itulah yang jadi penyebab.

“Kita mungkin kurang irasional jika kita tidak diingatkan akan potensi bahaya oleh berita,” kata Kate Nightingale yang bekerja di London.

Psikolog Andy Yap dan Charlene Chen, yang berspesialisasi dalam pemasaran dan bisnis di Singapura mengatakan bahwa kekhawatiran atas tisu toilet didasarkan karena desas-desus tentang kekurangan yang akan terjadi karena penutupan pabrik pembuatnya di Tiong­kok.

Ketika lebih banyak negara melaporkan kasus baru, kata Yap dan Chen, penting bagi pihak berwenang untuk membangun kembali kendali atas informasi dan desas-desus yang memicu penimbunan dan aksi panic buying.

“Di saat ketidakpastian, bagus untuk menetapkan aturan karena aturan tersebut memberikan ketertiban dan pengawasan,” kata keduanya.

Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Fadela Chaib mengatakan, permintaan yang meningkat itu didorong oleh panic buying, penimbunan, dan spekulasi.

Bulan lalu, sepuluh ribu orang antre di luar toko di Hong Kong yang telah mendapatkan kiriman. Beberapa hari kemudian, masker dipilih sebagai hadiah yang paling diinginkan saat Hari Valentine.

Di London, masker sekarang harganya lebih dari 100 kali lipat dari harga eceran normal. Sementara, pihak berwenang Prancis mengatakan mereka akan mengambil alih semua stok masker dan produksinya.

Di sisi lain, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS tidak merekomendasikan penggunaan masker wajah untuk melawan wabah tersebut. (AFP/Nur/X-11)

BERITA TERKAIT