05 March 2020, 16:26 WIB

Korona Meluas, Masyarakat Diminta Jaga Daya Tahan Tubuh


Indriyani Astuti | Humaniora

KEMENTERIAN Kesehatan meminta masyarakat lebih waspada dan menjaga daya tahan tubuh untuk mengantisipasi penyebaran virus korona (COVID-19).

Juru bicara pemerintah terkait penanganan korona, Achmad Yurianto, menjelaskan perkembangan kasus positif korona di luar Tiongkok, seperti Jepang, Iran, Korea Selatan dan Italia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat 20 negara baru yang melaporkan kasus positif korona.

"Mobilitas penderita dengan COVID-19 tidak terdeteksi di pintu masuk negara mana pun. Sebab saat ini masih mengandalkan thermal scanner (pengukur suhu tubuh)," tutur Yuri, sapaan akrabnya, dalam konferensi pes di Kantor Staf Presiden, Kamis (4/3).

Baca juga: Wabah Korona di Tiongkok Mereda, Eijkman: Itu Siklus Epideminya!

Pada sejumlah kasus, lanjut Yuri, tubuh orang yang membawa virus korona hanya menunjukkan gejala ringan. Misalnya, panas tubuh yang tidak tinggi, batuk sesekali, bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Kalangan ahli kesehatan menduga gejala ringan pada orang positif korona, disebabkan tubuh tidak sempat mereplikasi diri atau terjangkit virus dalam skala kecil. Berbeda dengan sejumlah kasus infeksi pertama di Wuhan, Tiongkok, yang menjadi episentrum pertama penyebaran virus korona.

Selain itu, gejala ringan juga diduga karena daya tahan pasien cukup baik dalam melawan virus. Mempertimbangkan faktor tersebut, pemerintah Indonesia pun mengikuti standar WHO. Bahwa, masa inkubasi untuk memantau seseorang positif atau tidak terinfeksi korona, kemudian diperpanjang. Tidak lagi 14 hari, namun berubah menjadi 28 hari.

Baca juga: Jokowi Konfirmasi Kasus Virus Korona Pertama di Indonesia

Hingga saat ini, WHO belum menemukan obat atau vaksin untuk menangkal virus korona. Yuri menjelaskan perawatan di rumah sakit merupakan terapi penunjang, yang bertujuan menguatkan daya tahan tubuh pasien.

Observasi terhadap pasien positif korona, dilakukan untuk mengantisipasi kedaruratan kesehatan masyarakat. Mengingat, pasien yang tubuhnya positif membawa virus korona, bisa menjadi sumber penularan terhadap orang lain. Kementerian Kesehatan pun gencar melakukan proses identifikasi terhadap orang yang sempat berkontak dengan pasien terinfeksi korona.

Berdasarkan pantauan, penambahan kasus positif korona di Tiongkok semakin sedikit. Dari 90 ribu kasus positif korona di Negara Tirai Bambu, tercatat 55 ribu pasien dinyatakan sembuh. Profil pasien yang sembuh berada pada rentang usia 35-40 tahun, atau kelompok muda. Sedangkan pasien yang meninggal akibat virus korona di Tiongkok, berusia 65-75 tahun dan hampir 70% mempunyai penyakit co-morbid atau penyakit kronis. Sehingga, memengaruhi daya tahan tubuh.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT