05 March 2020, 15:09 WIB

MRT Jakarta Angkut 30,2 Juta Penumpang Sejak Beroperasi


Teguh Nirwahyudi | Megapolitan

SEJAK beroperasi pada 24 Maret 2019, Moda Raya Terpadu (MRT) telah mengangkut 30,2 juta penumpang.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), William Sabandar, kepada awak media di Jakarta, Kamis (5/3). "Jumlah penumpang yang kami angkut 86 ribu per hari. Di awal beroperasi, kami menargetkan hanya 65 ribu per hari. Tahun ini, kami bisa mengangkut sekitar 100 ribu penumpang setiap hari," papar William.

Untuk mencapai target tersebut, MRT Jakarta berupaya mempertahankan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Selama ini, alasan warga Jakarta memilih MRT karena faktor ketepatan waktu (on time performance) yang mencapai 99,8%.

"Ini yang dirasakan pengguna. Kami juga mengimbau pemilik gedung di sepanjang Sudirman dan Thamrin, untuk membuka pagarnya agar memudahkan penghuni gedung untuk naik MRT. Kami pun akan meningkatkan aspek kualitas dan keamanan moda ini," tegas William.

Baca juga: MRT Jakarta Klaim Kepuasan Pelanggan Capai 82,9%

Sampai saat ini, MRT Jakarta memiliki dua sumber pendapatan, yakni komponen tiket dan non-tiket, seperti pemasangan iklan dan layanan masyarakat. MRT Jakarta juga mulai membangun rute fase kedua, dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) ke Harmoni, dengan dua stasiun utama di bawah tanah.

Pembangunan jalur MRT fase kedua ditargetkan rampung pada akhir 2024.
Stasiun pertama berada di Monumen Nasional (Monas), yang juga berfungsi sebagai pendorong pergerakan manusia lebih terpadu. Stasiun di bawah tanah kedua berada di kawasan Harmoni.

"Teknologi yngg dipilih dapat mengantisipasi dan menghindari kemungkinan banjir. Ini nomor satu yang kami pikirkan dan usahakan," lanjut William.

William menuturkan terdapat 10 stasiun pada rute tahap kedua, yaitu dari Bundaran HI hingga Ancol Barat. Sebanyak 9 stasiun berada di bawah tanah. "Di Ancol Barat stasiunnya di atas permukaan tanah," imbuhnya.

Baca juga: Pengerjaan MRT Fase II Tidak Akan Merusak Cagar Budaya

Pada sisi lain, pihaknya merencanakan pembangunan jalur MRT fase ketiga lintas provinsi, dari Balaraja, Banten, hingga Cikarang, Jawa Barat. Proyek itu diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 50 triliun.

"Pembangunan tahap pertama dari Kalideres di barat Jakarta, hingga ke ujung Menteng di timur Jakarta. Tahun depan akan dimulai," ucap William.

Pembangunan rute MRT fase ketiga, lanjut William, akan paralel dengan pelaksanaan proyek fase kedua. Pengerjaan fase keempat juga paralel dengan fase ketiga. "Kami upayakan mekanisme pendanaan secara kreatif. Tidak lagi mengandalkan pembiayaan G to G. Juga tidak lagi tight loan. Mungkin bisa lewat penerbitan obligasi," tutupnya.

Komisaris Utama MRT Jakarta, M Syaugi, menambahkan model pembiayaan tersebut sedang dikaji secara mendalam. "Kalau tidak tight loan, ya untight loan," tandas Syaugi.(OL-11)

BERITA TERKAIT