05 March 2020, 12:02 WIB

Dinkes se-NTT dan Kemenkes Bahas Evaluasi Program Malaria


Palce Amalo | Nusantara

Dinas Kesehatan (Dinkes) Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pengelola program malaria dinas kesehatan 22 kabupaten dan kota, serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar pertemuan monitoring dan evaluasi program malaria di Kupang, Kamis (5/3).

Kegiatan diikuti 135 orang, juga melibatkan perwakilan dari Bappeda, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), dan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Kegiatan itu bagian dari komitmen untuk percepatan eliminasi malaria di NTT pada 2023.

Kepala Dinas Kesehatan NTT dr Dominikus Minggu mengatakan kegiatan tersebut akan memberikan gambaran potensi dan persolan yang dihadapi masing-masing kabupaten dan kota, termasuk dukungan yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan seluruh kegiatan di kabupaten dan kota tersebut. "Hasil monitoring dan evaluasi ini merupakan bahan berharga untuk mengembangkam program dan kerjasama guna percepatan eliminasi malaria 2023," ujarnya.

Baca Juga: Sumba masih Berjuang Keluar dari Status Daerah Endemis Malaria

Menurut dr Dominikus, kasus malaria di NTT menurun tajam antara 2018-2019. Pada 2018 terjadi 18.053 kasus, sedangkan pada akhir 2019 tercatat 12.723 kasus atau turun sebesar 5.330 kasus.

Penurunan kasus malaria terbanyak antara lain di Sumba Tengah dari 571 kasus pada 2018 turun menjadi 175 kasus pada 2019 dan Sumba Barat Daya mengalami penurunan dari 8.400 kasus menjadi 4.118 kasus dalam kurun waktu yang sama. Namun, juga tercatat peningkatan kasus malaria di Sumba Barat, Timor Tengah Selatan, Malaka, dan Sikka.

Syarat utama untuk mencapai eliminasi malaria adalah tidak ada lagi kasus penularan malaria  setempat selama tiga tahun berturut-turut.

Sampai Desember 2019, masih ditemukan kasus malaria di seluruh kabupaten  dengan angka terendah di Manggarai Timur sebanyak satu kasus, serta Ende dan Ngada masing-masing tiga kasus. Kabupaten lainnya seperti Nagekeo (11 kasus), Rote Ndao (15 kasus), Manggarai (22 kasus), dan Sabu Raijua (24 kasus).

Baca Juga: Eliminasi Malaria di Sumba Alami Banyak Kemajuan

Akan tetapi, sesuai data Dinas Kesehatan NTT angka kesakitan malaria (API) masih tinggi yakni 2,16%. Ini masih di atas target API 1% per 1.000 penduduk.

Selain itu, belum ada kabupaten dan kota yang telah mencapai eliminasi malaria, kecuali Kota Kupang dan Manggarai yang hampir mencapai eliminasi malaria. Dua kabupaten ini sedang menunggu hasil penilaian (assessment) malaria.

Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, karena memengaruhi angka kesakitan bayi, balita, dan ibu melahirkan, serta menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Selain itu malaria juga menghambat perkembangan anak termasuk fungsi kongnisi dikarenakan anemia kronis, kerusakan otak dan dan tingginya
ketidakhadiran di sekolah.

Dengan demikian malaria menjadi salah satu penghambat tercapainya cita-cita sumber daya manusia lndonesia yang berkualitas menuju generasi emas 2045.

Menghilangkan malaria di lndonesia akan memperbaiki mutu SDM lndonesia. Secara nasional kasus malaria selama tahun 2005-2019, berdasarkan laporan rutin, cenderung menurun yaitu pada tahun 2009 sebesar 1,85 per 1.000 penduduk menjadi 0,84 per 1.000 penduduk pada tahun 2019. (PO/OL-10)

BERITA TERKAIT