05 March 2020, 09:19 WIB

Bawang Merah dan Rokok Putih Sumbang Inflasi di Pematangsiantar


Apul Iskandar | Nusantara

NAIKNYA harga bawang merah sejak Oktober 2019 dan meningkatnya harga rokok putih akibat naiknya cukai rokok sejak Januari 2020, menyebabkan inflasi di Kota  Pematangsiantar.

Asisten II Pemkot Pematangsiantar, Zainal Siahaan didampingi Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia, Edhi Rahmanto Hidayat menyampaikan hal itu saat membuka rapat Tim Teknis Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Pematangsiantar, di ruang rapat KPw BI Pematangsiantar, Rabu (4/3).

Diterangkan pada Januari, Kota Pematangsiantar mencatat inflasi 0,62 persen (month to month/mtm) atau secara tahunan inflasi sebesar 2,33 persen (year on year/yoy). Realisasi inflasi terpantau lebih tinggi dibanding historis selama tiga tahun terakhir sebesar 0,22 persen (mtm).

Periode Januari lalu, katanya, beberapa komoditas memberi andil terbesar dalam inflasi Kota Pematangsiantar. Di antaranya kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 1,70 persen (mtm) dengan andil sebesar 0.66 persen. Sedangkan kelompok  transportasi menjadi kelompok penahan inflasi yang terpantau deflasi sebesar -0,52 persen (mtm) dengan andil -0,03 persen.

Dilanjutkan, inflasi yang terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau merupakan dampak dari kenaikan harga sub kelompok makanan seperti bawang merah dan sub kelompok rokok dan tembakau, yaitu komoditas rokok putih. Merespons kondisi inflasi Januari 2020 dan dalam rangka mencapai sasaran inflasi nasional tahun 2020 sebesar 3+ 1 persen (yoy), TPID Kota Pematangsiantar akan terus berkoordinasi dan menindaklanjuti hasil rapat koordinasi nasional pengendalian inflasi 2019 dan mendorong langkah peningkatan kinerja TPID ke depan.

Inflasi pada perode mendatang, katanya, diperkirakan tetap terkendali,dengan inflasi tahunan berada pada sasaran inflasi 3+1(yoy). Resiko kenaikan inflasi juga dapat muncul akibat berkurangnya pasokan beberapa komoditas pangan yang diimpor dari Tiongkok, seperti bawang putih yang sejak beberapa minggu lalu telah dihentikan impornya oleh pemerintah untuk mengantisipasi dampak virus korona yang melanda Tiongkok. Adapun rata-rata Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari dalam tiga tahun terakhir mencatat deflasi sebesar -0,34% persen (mtm).

"Karenanya diharapkan menjadi langkah nyata menghasilkan solusi yang lebih komprehensif dan konkret dalam mengatasi permasalahan inflasi di daerah. Dan mendorong peningkatan kapasitas perekonomian kita," katanya.

Sementara itu, Kepala KPw BI Pematangsiantar Edhi Rahmanto Hidayat mengungkapkan, Kota Pematangsiantar mengalami inflasi sebesar 0,12 persen (mtm) atau 2,67 persen (yoy) pada periode Februari 2020. Kondisi ini lebih rendah dibanding realisasi inflasi pada periode bulan sebelumnya, yaitu 0,62 persen (mtm) atau 2,33 persen (yoy).

Sementara, jika dihitung secara tahunan inflasi Kota Pematangsiantar tercatat sebesar 0,73 persen (year to date/ytd).

baca juga: Penataan Kawasan Danau Toba Tahap Awal Selesai Juni 2020

"Secara umum, realisasi inflasi di berbagai kota masih dalam rentang sasaran inflasi yang ditargetkan pemerintah dan Bank Indonesia, yaitu 3+1 persen (yoy)," terang Edhi.

Dan pada periode Februari ada tiga kota di Sumatera Utara (Sumut) mengalami inflasi, Sibolga 0,69 persen (mtm), Medan 0,14 persen (mtm), dan Pematangsiantar 0,12 persen (mtm). Sedangkan dua kota lainnya mengalami deflasi, yaitu Padangsidimpuan dan Gunungsitoli masing masing deflasi sebesar 0,01 persen (mtm) dan 0,73 persen (mtm). (OL-3)

 

BERITA TERKAIT