05 March 2020, 09:05 WIB

Adi Asmawan: Pelopori Berbelanja dengan Sadar


Melalusa Susthira K | Humaniora

DIBUKA pada November 2018 lalu, Saruga menjadi toko dengan sistem curah dan tanpa kemasan atau bulk store pertama yang berdiri di Jakarta. Kini, toko dengan konsep serupa mulai menjamur di berbagai lokasi, baik di Ibu Kota maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Saat berkunjung ke Saruga, saya mendapati stoples-stoples kaca memenuhi rak-rak toko bergaya unfinished industrial yang berlokasi di Bintaro Sektor 1 itu. Terdapat sejumlah produk yang jarang ditemui di pasar swalayan ataupun toko kelontong kebanyakan, seperti lerak, quinoa, sabun cuci dari minyak jelantah, dan kombucha ada di dalamnya. Namun, ada pula produk lain yang lazim kita temui di toko-toko swalayan lain, seperti beragam rempah dan bumbu dapur.

Di toko tersebut juga ada tabung-tabung kaca berukuran lainnya. Ada yang dipenuhi sabun mandi cair, sampo, minyak kanola, minyak kelapa, dan minyak kelapa ekstra murni yang dapat langsung dikucurkan dari tuas dispensernya. Dari lulur, tawas, selai, menstrual cup, hingga pupuk cair juga dapat ditemukan di Saruga.

Pemilik Saruga Package Free Shopping Store, Adi Asmawan, menjelaskan bahwa Saruga memang mengusung kembali konsep berbelanja kebutuhan sehari-hari dengan sistem curah seperti toko kelontong pada masa lampau. Bedanya, produk-produk di toko kelontong kekinian itu dijual tanpa kemasan. Lebih dari 200 produk yang dijajakan Saruga dapat dibeli sesuai kebutuhan dan akan dihitung sesuai gramasi, terkecuali produk yang memang dijual secara satuan atau batangan.

"Dibuatlah sebuah konsep (Saruga) yang sebenarnya ini bukan inovasi, cuma mau memopulerkan kembali bahwa (toko curah) enggak cuma di Eropa, di Amerika, tapi juga di Indonesia dulu ada," ungkap Adi saat dijumpai Media Indonesia di tokonya tersebut, Kamis (30/1).

Bercerita tentang alasannya mendirikan Saruga, Adi beranggapan bahwa retail memiliki posisi penting di antara produsen dan konsumen dalam pendistribusian bakal calon sampah. Untuk itu, lewat toko curah tanpa kemasan yang didirikannya, ia berharap dapat memutus mata rantai potensi sampah kemasan yang dihasilkan dari produk kebutuhan sehari-hari tersebut.

"Retail itu positioning-nya ada di tengah, dia pintu gerbang terdistribusinya semua produksi, terutama bahan pangan. Itu ke end user, dari produsen ke end user. Saya punya keyakinan retail yang kayak gini itu harusnya bisa memberikan kontribusi yang besar untuk ngurangin volume sampah, terutama plastik sekali pakai atau kemasan," tutur Adi.

Melalui cara berbelanja baru yang lebih ramah lingkungan itu, Adi menilai berbelanja di tokonya itu hanyalah salah satu cara untuk mengurangi potensi timbulan sampah. Untuk itu, ia membuka Saruga. Tak hanya untuk menjual produk-produk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sekaligus menjadi wadah edukasi bagi masyarakat bahwa permasalahan sampah menjadi tanggung jawab setiap individu yang dapat dilakukan melalui pelbagai cara.

Lebih jauh dari itu, Adi mengatakan bahwa konsep tokonya itu juga ialah untuk mengedukasi masyarakat agar berbelanja sesuai kebutuhan, alias tidak konsumtif, lewat sistem curah. Menurutnya, gaya hidup konsumtif menjadi salah satu penyumbang utama kenaikan volume sampah, alih-alih hanya menghilangkan kemasan sekali pakai pembungkus produk.

"Sharing, bagi informasi, bahwa segala permasalahan ini baliknya ke kita sendiri. Sampah itu tercipta karena, satu, kita itu belum paham makna dari kata cukup. Kedua, kita tidak bisa membedakan mana kebutuhan mana keinginan. Maksudnya, coba sediakan waktu untuk tahu apa kebutuhan kamu sehari-hari. Jadi, belanja engga cuma 'tarik' saja," terang Adi.

Adi menjelaskan produk yang dijajakan di Saruga diklasifikasikan dalam tiga kategori produk, yakni produk makanan, rumah tangga, dan perawatan personal. Meskipun sistem berbelanja curah dan tanpa kemasan, Adi menyebut tetap mengedepankan jaminan kualitas untuk konsumen dengan menjual produk pangan yang telah memenuhi standar perizinan, minimal mengantongi produk izin rumah tangga (PIRT).

"Kedua, kita mencoba kearifan lokal, produsen-produsen lokal yang sudah tergerak soal penyelamatan lingkungan. Jadi, kayak yang bikin sabun itu 80% natural. Kalau (produk) yang home industry itu kebanyakan lokal," ujarnya.

Tidak hanya menghadirkan konsep berbelanja yang lebih ramah lingkungan, Adi menyebut Saruga juga kerap mengadakan workshop atau pelatihan untuk mengedukasi masyarakat agar semakin peduli atas isu sampah. Misalnya, dengan menggaet komunitas Kota Tanpa Sampah sebagai pemateri guna mengedukasi cara mengompos sampah organik rumah tangga via komposter.

Tidak kejar profit

Meskipun banyak permintaan agar Saruga membuka cabang, Adi mengaku lebih memilih untuk berfokus pada pencarian solusi dan inovasi serta kolaborasi lewat Saruga solution guna mengatasi volume sampah yang kian meningkat. Misalnya, Saruga bekerja sama dengan Unilever Indonesia untuk menghadirkan refill station sebagai pilot project pertama di gerainya. Ada 11 produk unggulan Unilever, mulai kebutuhan personal, rumah tangga, hingga dapur yang dapat dibeli secara curah di Saruga.

"Cari solusinya dulu. Makanya sampai sekarang tuh saya belum berani scale up, misalnya, expand bikin toko 10, 20, belum berani kalau belum ada solusinya. Solusinya dulu, improvement dulu," tutur Adi.

Dengan tren peduli lingkungan yang semakin populer di masyarakat, Adi menyebut bisnis bulk store-nya seolah dapat menjadi salah satu alternatif untuk mewadahi permintaan produk atau barang-barang yang lebih ramah lingkungan.

Berpandangan idealis, Adi mengaku bahwa bisnis tak melulu harus mengejar profit. Lebih dari itu, ia mencatat bahwa berkontribusi membantu mengatasi permasalahan sampah juga menjadi salah satu upaya yang ingin dicapainya lewat mendirikan Saruga.

"Apa yang nomor satu? Demand-nya ada. Untung atau enggak? Itu pertanyaan terakhir. Kalau ditanya berapa sih keuntungannya, setiap orang menilai angka keuntungan itu pasti berbeda-beda. Saya menolak untuk bilang memuaskan, tapi cukup, sangat cukup," ungkap Adi.

Ia menambahkan, "Harus optimis, namanya usaha. Makanya tujuan itu bukan cuma profit yang dicari. Kalau cuma cari profit, salah jalannya. Idealismenya memang harus ada. Saya optimis, kenapa? Karena saya akan selalu berjuang supaya Saruga itu bisa berkontribusi sangat besar, terutama memberangus volume sampah plastik, sampah-sampah kemasan, dan lain-lain."

Adi tak menampik menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan bisnis bulk store guna menghadirkan solusi mengatasi permasalahan sampah. Ia menyebut terbatasnya komunikasi menjadi salah satu tantangan disebabkan perlunya keterlibatan semua pihak dalam mengatasi isu sampah--baik produsen, konsumen, maupun pemerintah. Lebih lanjut, pria kelahiran Balikpapan itu mengungkapkan sampai saat ini belum ada regulasi yang mengatur soal menjalankan bisnis bulk store dan hal-hal yang melingkupinya di Indonesia.

"Pihak-pihak regulator itu sekarang sih yang saya dengar memang sudah mulai membaca situasinya dan kita coba untuk berkomunikasi, bekerja sama, regulasinya seperti apa," jelas Adi.

Menyelisik jauh ke awal, Adi mengaku menjalankan bisnis retail dengan model baru bukanlah hal yang mudah. Pada awalnya, banyak yang sangsi untuk menjalin kerja sama bisnis dengannya guna mendirikan Saruga.

Ia pun akhirnya bergerak sendiri menggunakan uang tabungannya untuk mendirikan Saruga, yang diambil dari bahasa Sansekerta di Kalimantan 'Swarga' berarti surga. Adi menyebut kini dalam menjalankan Saruga, ia dibantu dua rekannya, yakni Ridha Zaki dan Irawati Desiree.

"Sempat sih saya ceritain ke beberapa teman, semuanya kayak gitu, maksudnya ada reluctant-nya. Terus coba ke teman yang dia memang punya kapital besar, maksudnya untuk jadi investor saya, ya sama kayak gitu juga. Ditolak, tapi saya punya keyakinan. Akhirnya saya nabung sendiri sambil terus belajar. Ketika tabungan cukup, ya sudah buka," ungkap Adi. (M-2)

BERITA TERKAIT