05 March 2020, 08:20 WIB

Nadiem Siapkan Sanksi bagi Perisak


Aiw/Bay/H-2 | Humaniora

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyebut, ada tiga dosa di dunia pendidikan yang tidak dapat ditoleransi olehnya, yakni radikalisme atau intoleransi, perundungan (bullying), dan kekerasan seksual. Sanksi sebagai efek jera pun disiapkan untuk para pendosa itu.

"Ini adalah dosa yang tidak bisa saya maafkan. Untuk menghandle ini harus ada berbagai elemen, yang pertama ialah kebijakan yang jelas mengenai apa konsekuensi terhadap itu, ini yang sedang dirumuskan," kata Nadiem saat beraudiensi bersama Media Group di Hotel Borobudur, Jakarta, kemarin.

Nadiem berpendapat, harus ada tindakan yang jelas dan tegas bagi para pelaku, sehingga kejadian serupa tidak terulang.

Menurutnya, kasus-kasus yang telah terekspose saat ini hanyalah sebagian kecil dari kejadian yang sebenarnya.

"Realitasnya jauh lebih besar dan itu harus kita pastikan muncul di permukaan," ujarnya.

Selain menyiapkan sanksi yang dapat menimbulkan efek jera, Nadiem berpendapat, perlu keterlibatan murid-murid itu sendiri dalam tindakan pencegahan dan pelaporan.

Dia mencontohkan seperti program antisipasi bullying yang dijalankan Unicef, yakni menugaskan murid sebagai influencer di kelasnya untuk melakukan monitoring terhadap perilaku yang menjurus pada perundungan.

"Dengan adanya itu, dia melihat dan waspada. Dan itu jadi tugas dia dan kebanggaan dia bahwa dia sekarang memonitor, jadi sifatnya sangat efektif," tandasnya.

Untuk memberantas radikalisasi dari dunia pendidikan, Nadiem juga menyiapkan sejumlah strategi. Pertama, dengan menyaring atau mencegah masuknya guru yang bersifat intoleran sejak tahapan rekrutmen. "Untuk mengetahui apa posisi ideologi si guru dari rekrutmen," ungkap.

Kedua, mengukur level intoleransi sekolah lewat asesmen dan survei karakter setiap tahunnya. "Kita bisa memetakan secara relatif siapa yang di zona merah," pungkasnya. (Aiw/Bay/H-2)

BERITA TERKAIT