05 March 2020, 06:20 WIB

Bergerak Cegah Korona


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

WABAH korona telah memicu perubahan perilaku di tengah masyarakat. Sejumlah warga dan institusi aktif menginisiasi tindakan-tindakan yang dapat mencegah penyebaran pagebluk (wabah) lebih luas.

Di sejumlah sekolah, misalnya, pola hidup bersih dan sehat digalakkan. Siswa antara lain diwajibkan mencuci tangan sebelum atau sesudah beraktivitas.

"Kalau hari biasa, anak-anak jarang cuci tangan. Paling pas mau jajan. Sekarang kita biasakan setiap murid yang datang harus cuci tangan," ungkap Kepala SMPN 156 Jakarta, Ujang Supriana, kemarin.

Ada juga yang telah mengimbau para siswa untuk meminimalkan kontak fisik, seperti tidak mencium tangan gurunya, juga bersalaman atau bersentuhan secara langsung.

Langkah meminimalkan kontak fisik didukung anggota Komisi X DPR, Illiza Sa'aduddin Djamal. "Mengajarkan anak untuk tidak bersalaman atau berjabat tangan pada kondisi sekarang ini merupakan salah satu upaya menghindari penyakit tersebut," kata Illiza.

Mantan Wali Kota Banda Aceh itu juga menyebut perlunya dibudayakan konsumsi makanan sehat dan budaya hidup sehat lainnya.

"Penyosialisasian pencegahan terhadap virus korona bisa melalui unit kesehatan sekolah dan di perguruan tinggi bisa lewat klinik kampus," terangnya.

Illiza meminta upaya itu dilakukan dengan mengikuti SOP dari Kemenkes dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat sehingga tidak mengganggu proses belajar-mengajar.

MI/Seno

Ilustrasi MI

 

Imbauan masalah sanitasi juga disampaikan Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) kepada pengurus masjid dan musala.

Mereka diminta menjaga kebersihan lantai, tempat wudu, dan toilet dengan cairan disinfektan, serta menggunakan penyedot debu untuk karpet dan alas salat lainnya. Jemaah juga diimbau untuk membawa sajadah atau sapu tangan sendiri sebagai alas sujud.

Di lain pihak, Keuskupan Agung Jakarta mengatakan umat yang beribadah bisa tetap bersalaman, tetapi harus tetap menjaga kebersihan tangan.

Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta, Romo Adi Prasojo Pr, mengatakan salam damai juga dapat dilakukan dengan cara lain, seperti menganggukkan kepala sambil mengatupkan kedua tangan di dada. "Umat boleh tidak melakukan salam damai," ujar Adi dalam keterangan tertulisnya.

Senada, Uskup Agung Semarang Monsinyur Robertus Rubiyatmoko mengusulkan kepada umat Katolik di wilayahnya agar menyesuaikan tata cara beribadah demi mencegah penularan virus korona.

Sementara itu, penumpang angkutan umum juga dapat memanfaatkan cairan pembersih tangan yang disediakan di titik-titik ramai seperti stasiun MRT ataupun stasiun kereta api.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, mengatakan masyarakat kini semakin sadar dan ingin berkonsultasi tentang virus korona di call center 112 dan 119.

"Sudah ada 2.000 penelepon sejak diluncurkan 27 Januari," kata Widyastuti, kemarin. (Put/Ins/*/Ant/X-11)

BERITA TERKAIT