04 March 2020, 23:55 WIB

Duet Sipil-TNI Pimpin BIN jadi Opsi Terbaik


Widhoroso | Politik dan Hukum

DUET sipil-militer untuk memimpin Badan Intelijen Negara (BIN) dinilai hal yang bagus. Yang pasti, pemimpin BIN harus bisa menjaga stabilitas politik dan keamanan nasional.

Hal tersebut diungkapkan pengamat milliter Salim Said, Rabu (4/3). Ia menyatakan hal itu menanggapi adanya dukungnya kepada duet Suhendra Hadikuntono dan Mayor Jenderal TNI Abdul Hafil Fuddin untuk memimpin BIN. "Soal duet sipil-militer itu bagus. Yang jelas, siapa pun yang akan memimpin BIN, mereka harus bisa menjaga stabilitas politik dan keamanan nasional," ujar Salim Said.

Pimpinan BIN, kata Salim, merupakan ranah Presiden yang memiliki hak prerogratif untuk mengangkatnya, sebagaimana mengangkat menteri-menteri dalam kabinet. "Meski keputusan politik, kita berharap keputusan yang diambil Presiden itu jangan terlalu personal, tapi berbasis prestasi," harapnya.

Ke depan, Salim berharap ada ketentuan dan mekanisme dalam Presiden memilih pimpinan BIN yang melibatkan parlemen. "Kalau sekarang memang murni hak prerogratif Presiden, tak perlu pertimbangan dari DPR. Jadi, sekali lagi terserah Presiden mau pilih siapa yang akan memimpin BIN," tandasnya.

Sebelumnya, cendekiawan muslim Komaruddin Hidayat berpendapat, sudah menjadi kebutuhan bangsa bila duet sipil dan militer memimpin BIN saat ini. “Rasanya sih oke. Karena sejarah militer Indonesia itu anak kandung rakyat (civil society),” ujar Komaruddin Hidayat yang juga mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah.

Meskipun militer dituntut kerja profesional berdasarkan undang-undang (UU), yakni UU No 4 Tahun 2004 tentang TNI, serta tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang ada, kata Komaruddin, secara historis militer itu lahir dari rahim civil society. “Jadi kalau sekarang ada gagasan untuk mempertemukan sipil-militer untuk memimpin BIN, itu ide yg bagus, konstruktif,” jelasnya.

Duet Suhendra-Abdul Hafil Fuddin dinilai berbagai pihak pantas memimpin lembata telik sandi tersebut. Keduanya dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin BIN menjadi lembaga intelejen yang mumpuni. (RO/R-1)

BERITA TERKAIT