05 March 2020, 06:00 WIB

Cegah Tangkal Covid-19


Sumardi Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Pulmonologi, Divisi Pulmonologi dan Penyakit Kritis, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FK UGM, KSM Pulmonologi RSUP Dr Sardjito Yogyakarta | Opini

SELANG dua bulan semenjak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan tentang cluster kasus pneumonia di Kota Wuhan, Tiongkok, yang belakangan dinamai covid-19, akhirnya terkonfirmasi dua kasus pertama di Indonesia.

Penyakit saluran napas yang disebabkan virus korona jenis baru. Virus korona ini tipe RNA, seperti umumnya virus influenza, avian influenza, dan flu babi (swine flu).

Infeksi virus ini menyebabkan severe acute respiratory syndrome (SARS) atau sindrom pernapasan akut yang parah. Pada 2002 sampai 2004 pernah terjadi juga SARS, yang disebabkan virus korona, dimulai dari Kota Guangzhou di Tiongkok.

Penularannya melalui butir-butir dahak yang mengandung virus korona (droplet), yang dibatukkan orang yang tertular virus korona. Droplet bisa melekat di anggota badan, alat-alat sekitarnya, baju, dan dinding ruang. Orang yang tersentuh droplet tadi dapat ketularan virus korona bila droplet tadi terhirup masuk saluran napas.

Gejalanya seperti orang yang sedang sakit flu, seperti demam, batuk kering, pilek, sakit telan, tenggorok sakit, sakit kepala, dan menceret (influenza like syndrome/ILI). Pada sedikit kasus bisa tanpa gejala, walaupun virus korona sudah masuk ke saluran napas.

Semua orang bisa terjangkit virus korona

Individu yang sudah sakit covid-19 bisa menulari orang lain. Virus korona masuk ke saluran napas perlu melekat pada sel-sel saluran napas. Sel inang tempat melekat virus ini perlu perantara reseptor. Bila reseptor tersebut sesuai dengan virusnya, akan terjadi invasi virus ke dalam sel saluran napas sampai paru.

Reseptor virus berbeda pada setiap individu. Reseptor ini secara genetik diturunkan. Ada individu yang rentan dan mudah tertular. Ada juga individu yang tertular virus corona, tetapi tidak menunjukkan gejala.

Pada individu yang rentan, bila dalam 2 sampai 3 hari muncul sesak napas berat, artinya paru mulai infeksi pneumonia. Ciri khas pneumonia karena virus ialah kedua paru kanan dan kiri radang pneumonia bilateral. Kondisi ini yang mengakibatkan sesak napas berat dan akut.

Kasus yang berat dan ada risiko meninggal terjadi pada orang dengan penyakit kronis, misalnya, penyakit jantung, diabetes, lever, paru kronis, dan kanker.

Seseorang masuk wilayah Indonesia dari negara yang sudah terjangkit covid-19 perlu screening untuk mendeteksi adanya demam dan ada gejala flu. Oleh karena itu, semua bandara dan pelabuhan laut yang menerima pengunjung dari negara terjangkit covid-19 wajib memeriksa dengan alat periksa suhu tubuh.

Masa inkubasi virus 2 sampai 10 hari, yang mana saat sangat mudah menular. Oleh karena itu, orang yang positif covid-19 perlu diisolasi sampai 14 hari untuk memastikan bebas virus korona.

Demikian juga orang yang punya kontak dengan orang sakit covid-19 harus dilacak aparat kesehatan setempat untuk memastikan risiko munculnya penyakit dan risiko penularan yang lebih luas.

Isolasi ketat dan menyeluruh seperti yang dilakukan Tiongkok terhadap Kota Wuhan dapat menurunkan angka penularan dan kematian. Perlu kesungguhan dan biaya besar untuk melacak dan screening yang berisiko tertular.

WHO telah mengapresiasi Tiongkok dengan model penanggulangan dan pencegahan meluasnya covid-19. Memang model tersebut perlu koordinasi otoritas kesehatan dan niat pemerintah yang kuat untuk mencegah meluasnya covid-19.

Ini merupakan suatu intervensi kesehatan masyarakat yang besar, bersejarah, dan baru pertama kali dilakukan secara nasional semenjak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan aturan hukum International Health Regulation pada 2005 terkait dengan penanggulangan epidemi global.

Orang sakit covid-19 bila timbul sesak napas pneumonia perlu perawatan intensif bantu napas di rumah sakit yang sudah ditunjuk untuk menangani covid-19. Ketersediaan fasilitas rumah sakit dan petugas kesehatan yang melacak (surveilans) kasus atau tersangka kasus covid-19 mutlak tersedia.

Pencegahan

Keterlambatan perawatan di rumah sakit pada kasus dengan gejala sesak napas berat akan mengancam keselamatan pasien. Kebanyakan kasus meninggal terjadi karena terlambat dirujuk ke rumah sakit. Kasus berat di rumah sakit diatasi dengan obat-obat yang suportif, terutama untuk mengatasi pneumonia dan penyakit penyerta lain, seperti penyakit jantung dan diabetes. Kasus yang bisa sembuh umumnya terdapat pada orang yang sehat. Covid-19 untuk orang sehat dapat sembuh sendiri dengan sistem imun yang baik.

Oleh karena itu, pencegahan ialah yang terbaik. Bila sakit flu batuk harus pakai masker biasa saja supaya tidak menulari orang sehat. Petugas rumah sakit perlu menggunakan masker khusus N95 yang bisa 95% mencegah penularan. Saat ini belum ada obat pembunuh virus korona (covid-19). Kekebalan tubuhlah yang bisa mengatasi penyakit covid-19.

Peranan media massa sangat penting untuk turut serta mencegah meluasnya penyakit. Di Tiongkok, yang media massanya disensor, meluasnya berita yang tidak benar tentang penyakit akan terhambat. Berita hoaks bisa memperkeruh kondisi panik masyarakat ataupun pasien dan keluarga terdekatnya.

Tata cara penanggulangan covid-19 seperti yang disarankan WHO perlu diimplementasikan pemerintah, disesuaikan dengan kondisi yang ada. Kementerian Kesehatan pada 4 Maret 2020 mengeluarkan Keputusan Menkes tentang Penetapan Infeksi Novel Coronavirus (Infeksi 2019-nCoV) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangannya.

Regulasi tersebut bertujuan mengatur peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penanggulangan covid-19, termasuk komunikasi intensif antara pemerintah pusat dan daerah. Peraturan tersebut juga menjamin pembiayaan bagi kasus yang positif ataupun suspek.

Dari segi penyebarannya, negara dengan geografis kontinental, seperti Tiongkok, Korea, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat mudah menyebarkan virus. Negara Indonesia yang kepulauan, penyebaran covid-19 dapat terbatas, tetapi penanganan menjadi tidak terpusat.

Akses rujukan antarpulau mutlak diperlukan bila ada kegawatan, mengingat sejarah SARS 2002, flu babi (swine flu), dan MERS-CoV, perjalanan virus korona ini akan mereda secara alami karena virus jenis RNA mudah bermutasi, yang kemudian menjadi tidak ganas.

BERITA TERKAIT