05 March 2020, 04:20 WIB

Neraca Perdagangan Nonmigas Ditargetkan Surplus US$15 Miliar


(Fan/Hld/E-1) | Ekonomi

KEMENTERIAN Perdagangan menargetkan neraca perdagangan barang nonmigas Indonesia mencapai US$15 miliar di tahun ini .

"Pada 2020-2024 sesuai RPJMN ekspor nonmigas ditargetkan tumbuh sebesar 5,2%-9,8%. Adapun neraca perdagangan barang ditargetkan mencapai US$15 miliar pada 2020," ungkap Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, pada 2019 ekspor nonmigas Indonesia mengalami surplus sebesar US$6,15 miliar. Karena itu, pemerintah akan terus mendorong agar ekspor nonmigas bisa terus tumbuh di tahun ini.

Guna mencapai target tersebut, Kemendag telah menyiapkan sejumlah strategi. Di antaranya memperluas akses pasar potensial dan sekaligus tetap menjaga pasar utama.

"Kita harus menjaga pasar utama seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia, tapi kita juga harus mengembangkan ekspor ke pasar pasar potensial seperti Afrika Selatan, Nigeria, Cile, dan tetangga kita Myanmar," ujarnya.

Selain itu, lanjut Agus, Kemendag juga akan mempercepat proses ratifikasi dan implementasi perundingan perdagangan internasional, serta me-review perjanjian perdagangan internasional yang sudah selesai.

Di samping itu, pihaknya akan mendorong penguatan misi dan promosi dagang, serta meningkatkan ekspor barang yang bernilai tambah dan menggenjot perdagangan jasa.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengaku lega sebab Indonesia bisa tetap melakukan ekspor rumput laut kering ke Tiongkok meski virus korona baru (covid-19) masih melanda.

"Alhamdulillah tidak ada kesulitan dan ekspor terus berjalan," ujar Edhy melalui keterangan resminya kepada Media Indonesia, kemarin.

Sebagai informasi, rumput laut kering yang diekspor ini merupakan hasil produksi PT Kencana Bumi Sukses. Dalam sebulan, perusahaan ini bisa menghasilkan 200 ton rumput laut kering ke Tiongkok, Vietnam, dan Singapura. Tahun lalu, total ekspor mereka mencapai 1.371 ton bernilai Rp4,48 miliar. (Fan/Hld/E-1)

BERITA TERKAIT